Asal muasal nama kota muntok
Sampai saat ini kita semua mungkin belum mengetahui asal usul nama kota
muntok. Namun menurut penjelasan dari sejarah nama muntok ada setelah ditemukan
dan dieksploitasinya bijih timah. Tidak diketahui dengan pasti mengapa kota tua
tersebut dinamakan Muntok. Sebuah sumber di Eropa menyebutkan bahwa Muntok
dinamai menurut nama Gubernur Jenderal Inggris yang berkedudukan di Tumasik
(sekarang Singapura), yaitu Lord Minto. Ada juga yang mengatakan mana muntok
berasal saat Pangeran Jayawikrama naik takhta sebagai Sultan Mahmud Badaruddin
I (SMB I), keluarga Kerajaan Palembang kurang berkenan dengan kehadiran istri
pertama Sultan bernama Zamnah yang berasal dari Johor. Istrinya kemudian
meminta untuk dibolehkan berdomisili di Bangka. Dari Tanjung Sungsang, dataran
di muara Sungai Musi di Pulau Sumatera, itulah istrinya melihat kawasan di
seberang, Pulau Bangka, yang dianggapnya cocok untuk bermukim.
"Amun tok, kalau itu tempatnya sesuailah. Kurang lebih begitulah kata sang putri,". Kata-kata itu kemudian dijadikan nama kota itu. Kira-kira, begitulah kira asal-usul nama Muntok yang kemudian dilafalkan masyarakat setempat menjadi Mentok.
"Amun tok, kalau itu tempatnya sesuailah. Kurang lebih begitulah kata sang putri,". Kata-kata itu kemudian dijadikan nama kota itu. Kira-kira, begitulah kira asal-usul nama Muntok yang kemudian dilafalkan masyarakat setempat menjadi Mentok.
Muntok adalah kota tua yang
didirikan oleh Abang Pahang, mertua Sultan ''Palembang Darusssalam'' Mahmud
Badaruddin I (1720-1755) pada tahun 1722 dan menjadi ibu kota Karesidenan
[[Bangka Belitung]], sebelum dipindahkan oleh Residen J. Englenberg ke [[Pangkal
Pinang]] pada tahun 1907.[[Berkas:COLLECTIE TROPENMUSEUM Sociëteit Concordia in
Muntok TMnr 60048672.jpg|thumb|300px|''Sociëteit Concordia'' di Mentok (tahun
1914)]
Kabupaten Bangka Barat
Kabupaten Bangka Barat merupakan salah satu bagian dari Provinsi
Kepulauan Bangka Belitung. Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sendiri terbentuk
berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 2000 tentang
pembentukan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, dan Undang-Undang Nomor 5 Tahun
2003 tentang pembentukan Kabupaten Bangka Selatan, Kabupaten Bangka Tengah,
Kabupaten Bangka Barat, dan Kabupaten Belitung Timur. Batas wilayah Kabupaten Bangka Barat berdasarkan
Undang-Undang RI No. 5 Tahun 2003 adalah sebagai berikut:
- Sebelah utara berbatasan dengan laut Natuna
- Sebelah timur berbatasan dengan Teluk Kelabat Kecamatan Bakam, Kecamatan Puding Besar, Kecamatan Mendo Barat dan Kabupaten Bangka
- wilayah Kabupaten Bangka
- Sebelah selatan berbatasan dengan Selat Bangka
- Sebelah barat berbatasan dengan Selat Bangka
Berdasarkan pembacaan pada Peta Rupa Bumi
BAKOSURTANAL skala 1 : 250.000, wilayah Kabupaten Bangka Barat secara geografis
terletak di antara : 105 o 00’ – 106o 00’ BT dan 01o
00’ – 02o 10’ LS. Luas wilayah daratan lebih kurang 3.065,79 Km²
dengan wilayah administratif yang terbagi 6 (enam) kecamatan, 4 (empat)
kelurahan dan 60 (enam puluh) desa. Secara topografi wilayah Kabupaten Bangka
Barat terdiri dari rawa-rawa dengan hutan bakau dengan wilayah pantai landai
berpasir, daratan rendah dan bukit-bukit dengan hutan lebat. Kabupaten Bangka
Barat memiliki iklim Tropis Tipe A dengan curah hujan rata-rata 11,8
hingga 370,3 mm/bulan dan suhu udara rata-rata antara 25,7° C hingga 29,0° C.
Suku dan etnis penduduk Kabupaten Bangka Barat terdiri dari suku melayu,
keturunan Tionghoa, Jawa, Arab Melayu, Palembang, Bugis dan Batak. Total Jumlah
Penduduk s.d. Nopember 2011 adalah 187.453 Jiwa, dan persentase agama yang
dipeluk oleh penduduk adalah Agama Islam (90.61 %), Budha (5.56 %), Kong
Fu Cu (1,67 %), Kristen (1.56 %), Katholik (0,56 %) dan Hindu (0,03 %).
Mata pencaharian penduduk tersebar di berbagai kegiatan pertambangan,
perkebunan, pertanian, perikanan, kelautan, perdagangan barang dan jasa, serta
pegawai negeri, BUMN dan swasta. PT. Timah, Tbk., salah satu perusahaan BUMN
yang ada di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang banyak menampung tenaga
kerja. Dan di Kota Muntok adalah pusat peleburan biji timah pertama dan terbesar
yang ada di Indones
Kecamatan
- Jebus = 730,11 km² = 36.975 jiwa
- Kelapa = 601,17 km² = 25.186 jiwa
- Muntok = 469 km² = 36.294 jiwa
- Simpang Teritip = 626,47 km² = 23.715 jiwa
- Tempilang = 398,86 km² = 20.404 jiwa
- Parit Tiga
Dasar hukum pembentukan Dasar
hukum UU RI Nomor 5 Tahun 2003 Pemerintahan - DAU
Rp. 265.457.548.000,-(2011)[1]
Luas 2.820,61 km2 [2]
Populasi - Total 142.574 jiwa (2007)[3]
- Kepadatan 50,55 jiwa/km2
Demografi
Hari IBU
SELAMAT HARI IBU "
Sekuntum melati, lambang kasih nan suci.
Sekuntum melati, lambang kasih nan suci.
Ibu Indonesia, pembina tunas bangsa.
Berkorban sadar cita, tercapai dengan giat bekerja.
Merdeka laksanakan bhakti pada Ibu Pertiwi
Itulah penggalan Hymne Hari Ibu, pasti sangat familiar bagi para pegawai negeri yang mengikuti Upacara Hari Ibu. Alasannya karena lagu itu selalu dinyanyikan di setiap upacara peringatan hari Ibu. Sekuntum melati, lambang kasih nan suci. Ehm sangat indah bukan, melati yang harum mewangi sepanjang hari sebagai lambang kasih nan suci. Ya, lambang Hari Ibu adalah setangkai bunga melati dengan kuntumnya. Secara pasti tidak tahu sejarah kenapa melati dijadikan lambang Hari Ibu.
Lambang tersebut digunakan
untuk menggambarkan 3 hal: Kasih sayang kodrati antara ibu dan anak; Kekuatan,
kesucian antara ibu dan pengorbanan anak; Kesadaran wanita untuk menggalang
kesatuan dan persatuan, keikhlasan bakti dalam pembangunan bangsa dan negara. Padahal
peringatan hari Ibu Indonesia sebenarnya dimaksudkan untuk senantiasa
mengingatkan seluruh rakyat Indonesia terutama generasi muda, bahwa betapa
besar jasa para pejuang perempuan mengangkat harkat dan martabat kaum perempuan
untuk memperjuangkan kesatuan, persatuan dan kemerdekaan Indonesia. Hakekat
Hari Ibu di Indonesia adalah nasionalisme kaum hawa Indonesia. Benih2nya saat
persiapan kemerdekaan dan masa perang kemerdekaan.
Berbeda dengan sejarah
ditetapkannya Hari Ibu, sekarang ini Hari Ibu oleh bangsa Indonesia diperingati
tidak hanya untuk menghargai jasa-jasa pejuang perempuan, tetapi juga jasa
perempuan secara menyeluruh, baik sebagai ibu dan istri maupun sebagai warga
negara, warga masyarakat dan sebagai abdi Tuhan Yang Maha Esa, serta sebagai
pejuang dalam mengisi kemerdekaan dengan pembangunan nasional. Itulah maksud
dari embel-embel 'Indonesia' di judul postingan ini. Ada Hari Ibu dan Hari Ibu
Indonesia hihi. Yah perayaan yang umum sekarang ini lebih pada penghargaan
kepada kaum Ibu yang melahirkan kita, secara personal. Terlihat jelas dari
status teman-teman di facebook, tweet di twitter ataupun YM. Di Blackberry
Messenger juga tak kalah, semua pada mengganti pic profile dengan foto bersama
ibu/mamanya masing-masing.
“Selamat Hari Ibu…”, “Aku Sayang Ibu…” itu beberapa kalimat yang paling banyak muncul hari ini.
Setahun lalu, ditanggal yang sama, saya juga menulis post dengan judul "Setiap Hari adalah Hari Ibu", bukan untuk mengecilkan peringatan Hari Ibu ini tapi bagi saya setiap hari adalah hari spesial untuk ibu, terlebih saya yang tidak setiap waktu bisa ketemu sama ibu karena dipisahkan jarak :) Ingin tau bagaimana sebenarnya sejarah Hari Ibu di Indonesia?
Pimpinan perkumpulan kaum perempuan tergugah untuk mempersatukan diri dalam satu kesatuan wadah mandiri saat Sumpah Pemuda dan Lagu Indonesia Raya dilantunkan pada tanggal 28 Oktober 1928 dalam Kongres Pemuda Indonesia. Pada saat itu sebagian besar perkumpulan perempuan masih merupakan bagian dari organisasi pemuda pejuang pergerakan bangsa. Selanjutnya, atas prakarsa para perempuan pejuang pergerakan kemerdekaan pada tanggal 22-25 Desember 1928 diselenggarakan Kongres Perempuan Indonesia yang pertama kali di Yogyakarta. Salah satu keputusannya adalah di bentuknya satu organisasi bernama Perikatan Perkoempoelan Perempoean Indonesia (PPPI). Melalui PPPI terjalin kesatuan semangat juang kaum perempuan untuk secara bersama-sama kaum laki-laki berjuang meningkatkan harkat dan martabat bangsa Indonesia menjadi bangsa yang merdeka, dan berjuang bersama-sama kaum perempuan untuk meningkatkan harkat dan martabat perempuan Indonesia menjadi perempuan yang maju.
“Selamat Hari Ibu…”, “Aku Sayang Ibu…” itu beberapa kalimat yang paling banyak muncul hari ini.
Setahun lalu, ditanggal yang sama, saya juga menulis post dengan judul "Setiap Hari adalah Hari Ibu", bukan untuk mengecilkan peringatan Hari Ibu ini tapi bagi saya setiap hari adalah hari spesial untuk ibu, terlebih saya yang tidak setiap waktu bisa ketemu sama ibu karena dipisahkan jarak :) Ingin tau bagaimana sebenarnya sejarah Hari Ibu di Indonesia?
Pimpinan perkumpulan kaum perempuan tergugah untuk mempersatukan diri dalam satu kesatuan wadah mandiri saat Sumpah Pemuda dan Lagu Indonesia Raya dilantunkan pada tanggal 28 Oktober 1928 dalam Kongres Pemuda Indonesia. Pada saat itu sebagian besar perkumpulan perempuan masih merupakan bagian dari organisasi pemuda pejuang pergerakan bangsa. Selanjutnya, atas prakarsa para perempuan pejuang pergerakan kemerdekaan pada tanggal 22-25 Desember 1928 diselenggarakan Kongres Perempuan Indonesia yang pertama kali di Yogyakarta. Salah satu keputusannya adalah di bentuknya satu organisasi bernama Perikatan Perkoempoelan Perempoean Indonesia (PPPI). Melalui PPPI terjalin kesatuan semangat juang kaum perempuan untuk secara bersama-sama kaum laki-laki berjuang meningkatkan harkat dan martabat bangsa Indonesia menjadi bangsa yang merdeka, dan berjuang bersama-sama kaum perempuan untuk meningkatkan harkat dan martabat perempuan Indonesia menjadi perempuan yang maju.
Pada tahun 1929 PPPI berganti
nama menjadi Perikatan Perkoempoelan Istri Indonesia (PPII). Pada tahun 1935
diadakan Kongres Perempuan Indonesia II di Jakarta. Kongres tersebut disamping
berhasil membentuk Badan Kongres Perempuan Indonesia, juga menetapkan fungsi
utama Perempuan Indonesia sebagai Ibu Bangsa, yang berkewajiban menumbuhkan dan
mendidik generasi baru yang lebih menyadari dan lebih tebal rasa kebangsaannya.
Pada tahun 1938 Kongres Perempuan Indonesia III di Bandung menyatakan bahwa
tanggal 22 Desember sebagai Hari Ibu.
Tahun 1946 Badan ini menjadi Kongres Wanita Indonesia di singkat KOWANI, yang sampai saat ini terus berkiprah sesuai aspirasi dan tuntutan zaman. Peristiwa besar yang terjadi pada tanggal 22 Desember tersebut kemudian dijadikan tonggak sejarah bagi Kesatuan Pergerakan Perempuan Indonesia. Selanjutnya, dikukuhkan oleh Pemerintah dengan Keputusan Presiden Nomor 316 Tahun 1959 tentang Hari-hari Nasional yang Bukan Hari Libur tertanggal 16 Desember 1959, yang menetapkan bahwa Hari Ibu tanggal 22 Desember merupakan hari nasional dan bukan hari libur.
Pada kongres di Bandung tahun 1952 diusulkan dibuat sebuah monumen. Tahun berikutnya dilakukan peletakan batu pertama pembangunan Balai Srikandi oleh Ibu Sukanto (Ketua Kongres Pertama). Kemudian diresmikan oleh Menteri Maria Ulfah (Menteri Perempuan Pertama yang diangkat tahun 1950) tahun 1956. Akhirnya pada tahun 1983, Presiden Soeharto meresmikan keseluruhan kompleks monumen itu menjadi Mandala Bhakti Wanitatama di Jl. Laksda Adisucipto, Jogjakarta.
Sejarah tersebut juga dimuat di situs kantor www.setneg.go.id
Tahun 1946 Badan ini menjadi Kongres Wanita Indonesia di singkat KOWANI, yang sampai saat ini terus berkiprah sesuai aspirasi dan tuntutan zaman. Peristiwa besar yang terjadi pada tanggal 22 Desember tersebut kemudian dijadikan tonggak sejarah bagi Kesatuan Pergerakan Perempuan Indonesia. Selanjutnya, dikukuhkan oleh Pemerintah dengan Keputusan Presiden Nomor 316 Tahun 1959 tentang Hari-hari Nasional yang Bukan Hari Libur tertanggal 16 Desember 1959, yang menetapkan bahwa Hari Ibu tanggal 22 Desember merupakan hari nasional dan bukan hari libur.
Pada kongres di Bandung tahun 1952 diusulkan dibuat sebuah monumen. Tahun berikutnya dilakukan peletakan batu pertama pembangunan Balai Srikandi oleh Ibu Sukanto (Ketua Kongres Pertama). Kemudian diresmikan oleh Menteri Maria Ulfah (Menteri Perempuan Pertama yang diangkat tahun 1950) tahun 1956. Akhirnya pada tahun 1983, Presiden Soeharto meresmikan keseluruhan kompleks monumen itu menjadi Mandala Bhakti Wanitatama di Jl. Laksda Adisucipto, Jogjakarta.
Sejarah tersebut juga dimuat di situs kantor www.setneg.go.id
Tentang Bangka Belitung
Provinsi Kepulauan Bangka Belitung adalah
sebuah provinsi di Indonesia
yang terdiri dari dua pulau utama yaitu Pulau
Bangka dan Pulau Belitung serta pulau-pulau kecil seperti P.
Lepar, P. Pongok, P. Mendanau dan P. Selat Nasik, total pulau yang telah
bernama berjumlah 470 buah dan yang berpenghuni hanya 50 pulau. Bangka Belitung
terletak di bagian timur Pulau Sumatera, dekat dengan Provinsi Sumatera
Selatan. Bangka Belitung dikenal sebagai daerah penghasil timah, memiliki
pantai yang indah dan kerukunan antar etnis. Ibu kota provinsi ini ialah Pangkalpinang.
Pemerintahan provinsi ini disahkan pada tanggal 9 Februari
2001. Setelah
dilantiknya Pj. Gubernur yakni H. Amur Muchasim, SH (mantan Sekjen Depdagri)
yang menandai dimulainya aktivitas roda pemerintahan provinsi.
Selat
Bangka memisahkan Pulau Sumatera dan Pulau Bangka, sedangkan Selat Gaspar memisahkan
Pulau Bangka dan Pulau Belitung. Di bagian utara provinsi ini terdapat Laut
Cina Selatan, bagian selatan adalah Laut Jawa
dan Pulau Kalimantan
di bagian timur yang dipisahkan dari Pulau Belitung oleh Selat
Karimata.
Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sebelumnya
adalah bagian dari Sumatera Selatan, namun menjadi provinsi sendiri
bersama Banten
dan Gorontalo
pada tahun 2000.
Provinsi Kepulauan Bangka Belitung didirikan berdasarkan Undang-Undang Nomor 27
Tahun 2000 Tentang Pembentukan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung tanggal 21
November 2000 yang terdiri dari Kabupaten Bangka, Kabupaten Belitung dan Kota
Pangkalpinang. Pada tahun 2003 berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2003
tanggal 23 Januari 2003 dilakukan pemekaran wilayah dengan penambahan 4
kabupaten yaitu Bangka Barat, Bangka Tengah, Bangka Selatan dan Belitung Timur.
Provinsi Kepulauan Bangka Belitung merupakan pemekaran wilayah dari Provinsi Sumatra
Selatan
Wilayah
Propinsi Kepulauan Bangka Belitung, terutama Pulau Bangka berganti-ganti
menjadi daerah taklukan Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit.
Setelah kapitulasi dengan Belanda, Kepulauan Bangka Belitung menjadi jajahan Inggris sebagai
"Duke of Island". 20 Mei 1812 kekuasaan Inggris berakhir setelah konvensi London 13
Agustus 1824, terjadi peralihan kekuasaan daerah jajahan Kepulauan Bangka
Belitung antara MH. Court (Inggris) dengan K. Hcyes (Belanda) di Muntok pada 10 Desember
1816. Kekuasaan
Belanda mendapat perlawanan Depati Barin dan putranya Depati Amir yang di kenal
sebagai perang Depati Amir (1849-1851). Kekalahan perang Depati Amir
menyebabkan Depati Amir diasingkan ke Desa Air Mata Kupang NTT. Atas dasar stbl.
565, tanggal 2 Desember 1933 pada tanggal 11 Maret 1933 di bentuk Resindetil Bangka Belitung Onderhoregenheden yang
dipimpin seorang residen Bangka Belitung dengan 6 Onderafdehify yang di pimpin
oleh Ast. Residen. Di Pulau Bangka terdapat 5 Onderafdehify yang akhirnya
menjadi 5 Karesidenan sedang di Pulau Belitung terdapat 1 Karesidenan. Di zaman
Jepang, Karesidenan Bangka Belitung di perintah oleh pemerintahan Militer Jepang
yang disebut Bangka Beliton Ginseibu. Setelah Proklamasi kemerdekaan Republik
Indonesia, oleh Belanda di bentuk Dewan Bangka Sementara pada 10 Desember
1946 (stbl.1946
No.38) yang selanjutnya resmi menjadi Dewan Bangka yang diketuai oleh Musarif
Datuk Bandaharo Leo yang dilantik Belanda pada 11 November
1947. Dewan Bangka
merupakan Lembaga Pemerintahan Otonomi Tinggi. Pada 23 Januari
1948 (stb1.1948
No.123), Dewan Bangka, Dewan Belitung dan Dewan Riau bergabung dalam Federasi
Bangka Belitung dan Riau (FABERI) yang merupakan suatu bagian dalam Negara
Republik Indonesia Serikat (RIS). Berdasarkan Keputusan Presiden RIS Nomor
141 Tahun 1950 kembali bersatu dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)
hingga berlaku undang-undang Nomor 22 Tahun 1948. Pada tanggal 22 April 1950
oleh Pemerintah diserahkan wilayah Bangka Belitung kepada Gubernur Sumatera
Selatan Dr. Mohd. lsa yang disaksikan oleh Perdana Menteri Dr. Hakim dan Dewan
Bangka Belitung dibubarkan. Sebagai Residen Bangka Belitung ditunjuk R.
Soemardja yang berkedudukan di Pangkalpinang.Berdasarkan UUDS 1950 dan UU Nomor
22 Tahun 1948 dan UU Darurat Nomor 4 tanggal 16 November 1956 Karesidenan
Bangka Belitung berada di Sumatera Selatan yaitu Kabupaten Bangka dan dibentuk
juga kota kecil Pangkalpinang. Berdasarkan UU Nomor 1 Tahun 1957 Pangkalpinang
menjadi Kota Praja. Pada tanggal 13 Mei 1971 Presiden Soeharto meresmikan
Sungai Liat sebagai ibukota Kabupaten Bangka. Berdasarkan UU Nomor 27 Tahun
2000 wilayah Kota Pangkalpinang, Kabupaten Bangka dan Kabupaten Belitung
menjadi Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Selanjutnya sejak tanggal 27
Januari 2003 Provinsi Kepualauan Bangka Belitung mengalami pemekaran wilayah
dengan menambah 4 Kabupaten baru yaitu Kabupaten Bangka Barat, Bangka Tengah,
Belitung Timur dan Bangka Selatan
Musyawarah Pimpinan Daerah Provinsi
- Gubernur: Ir. H. Eko Maulana Ali, SAP, MSc
- Wakil Gubernur: H.Syamsuddin Basari, S.Sos
- Ketua DPRD: Drs.H.Munir Saleh, MM
- Kepala Polda: Brigjen Pol Drs. M. Rum Murkal
- Kepala Kejaksaan Tinggi: Ismail Fachruddin, SH, MH
- Ketua Pengadilan Tinggi: Ndjilei Kaban, SH
- Ketua Pengadilan Agama: Drs. H. Djafar Abdul Muchith, SH, MHI
- Komandan Kodim 0413 Bangka: Letkol. Art. Harjito
- Komandan Kodim 0414 Belitung: Letkol. CZi. M. Jangkung Widyanto
- Komandan Lanal Belinyu: Letkol Laut (P) Gregorius Agung, WD
- Komandan Lanud Tanjungpandan: Letkol. Udara (Pnb) Heddezol
- Rektor Universitas Bangka Belitung (UBB): Prof. Dr.Bustami Rahman, M.S
- Ketua STAIN Syekh Abdurrahman Sidik: Drs. Zulkifli, MA
- Sekretaris Daerah: Ir. H. Imam Mardi Nugroho, MT
Posisi geografis
Posisi geografis provinsi ini adalah 1º50' - 3º10' LS dan
105º - 108º BT.
Tipologi
Keadaan alam Provinsi
Kepulauan Bangka Belitung sebagian besar merupakan dataran rendah, lembah dan
sebagian kecil pegunungan dan perbukitan. Ketinggian dataran rendah rata-rata
sekitar 50 meter di atas permukaan laut dan ketinggian daerah pegunungan antara
lain untuk Gunung Maras mencapai 699 meter di Kecamatan Belinyu (P. Bangka),
Gunung Tajam Kaki ketinggiannya kurang lebih 500 meter diatas permukaan laut di
Pulau Belitung. Sedangkan untuk daerah perbukitan seperti Bukit Menumbing
ketinggiannya mencapai kurang lebih 445 meter di Kecamatan Mentok dan Bukit
Mangkol dengan ketinggian sekitar 395 meter di atas permukaan laut di Kecamatan
Pangkalan Baru.
Keadaan Tanah
Keadaan tanah Kepulauan Bangka Belitung secara umum
mempunyai PH atau reaksi tanah yang asam rata-rata dibawah 5, akan tetapi
memiliki kandungan aluminium yang sangat tinggi. Di dalamnya mengandung banyak
mineral biji timah dan bahan galian berupa pasir, pasir kuarsa, batu granit,
kaolin, tanah liat dan lain-lain. Keadaan tanah terdiri dari:
·
Podsolik dan Litosol Warnanya coklat
kekuning-kuningan berasal dari batu plutonik masam yang terdapat di daerah
perbukitan dan pegunungan, kuarsa, batu granit, kaolin, tanah liat dan
lain-lain.
·
Asosiasi Podsolik. Warnanya coklat
kekuning-kuningan dengan bahan induk kompleks batu pasir kwarsit dan batuan
plutonik masam.
·
Asosiasi Aluvial, Hedromotif dan Clay Humus
serta regosol: Berwarna kelabu muda, berasal dari endapan pasir dan tanah liat.
Hidrologi
Daerah Kepulauan Bangka
Belitung dihubungkan oleh perairan laut dan pulau-pulau kecil. Secara
keseluruhan daratan dan perairan Bangka Belitung merupakan satu kesatuan dari
bagian dataran Sunda, sehingga perairannya merupakan bagian Dangkalan Sunda (Sunda
Shelf) dengan kedalaman laut tidak lebih dari 30 meter.
Sebagai daerah perairan,
Kepulauan Bangka Belitung mempunyai dua jenis perairan, yaitu perairan terbuka
dan perairan semi tertutup. Perairan terbuka yang terdapat di sekitar pulau
Bangka terletak di sebelah utara, timur dan selatan pulau Bangka. Sedangkan
perairan semi tertutup terdapat di selat Bangka dan teluk Kelabat di Bangka
Utara. Sementara itu perairan di pulau Belitung umumnya bersifat perairan
terbuka.
Di samping sebagai daerah
perairan laut, daerah Kepulauan Bangka Belitung juga mempunyai banyak sungai
seperti : sungai Baturusa, sungai Buluh, sungai Kotawaringin, sungai Kampa, sungai Layang, sungai Manise dan sungai Kurau.
Flora
Di Kepulauan Bangka Belitung
tumbuh bermacam-macam jenis kayu berkualitas yang diperdagangkan ke luar daerah
seperti: Kayu Meranti, Ramin, Mambalong, Mandaru, Bulin dan Kerengas. Tanaman
hutan lainnya adalah: Kapuk, Jelutung, Pulai, Gelam, Meranti rawa, Mentagor,
Mahang, Bakau dan lain-lain. Hasil hutan lainnya merupakan hasil ikutan
terutama madu alam dan rotan. Madu Kepulauan Bangka Belitung terkenal dengan
madu pahit.
Fauna
Fauna di Kepulauan Bangka
Belitung lebih memiliki kesamaan dengan fauna di Kepulauan Riau dan semenanjung
Malaysia
daripada dengan daerah Sumatera. Beberapa jenis hewan yang dapat ditemui di
Kepulauan Bangka Belitung antara lain: Rusa, Beruk, Monyet,
Lutung, Babi Hutan, Tringgiling, Kancil, Musang ,
Elang, Ayam Hutan, Pelanduk, berjenis-jenis Ular dan Biawak.
Cuaca dan Iklim
Tahun 2007 kelembaban udara di
Provinsi Kepulauan Bangka Belitung berkisar antara 77,4 % sampai dengan
87,3 % dengan rata-rata perbulan mencapai 83,1 %, dengan curah hujan
antara 58,3 mm sampai dengan 476,3 mm dan tekanan udara selama tahun 2007
sekitar 1.010,1 MBS. Rata-rata suhu udara selama tahun 2007 di provinsi ini
mencapai 26,7 oC dengan rata-rata suhu udara maksimum 29,9 oC dan rata-rata
suhu udara minimum 24,9 oC. Suhu udara maksimum tertinggi terjadi pada Bulan
Oktober dengan suhu udara 31,7 oC, sedangkan untuk suhu udara minimum terendah
terjadi pada Bulan Februari dan Maret dengan suhu udara sebesar 23,2 oC.
Kepulauan Bangka Belitung memiliki Iklim
tropis yang dipengaruhi angin musim yang mengalami bulan basah selama tujuh
bulan sepanjang tahun dan bulan kering selama lima bulan terus menerus. Tahun
2007 bulan kering terjadi pada Bulan Agustus sampai dengan Oktober dengan hari
hujan 11-15 hari per bulan. Untuk bulan basah hari hujan 16-27 hari per bulan,
terjadi pada Bulan Januari sampai dengan Bulan Juli dan Bulan November sampai
Bulan Desember.
Demografi
Jumlah penduduk Provinsi
Kepulauan Bangka Belitung pada tahun 2007 sebesar 1.106.657 jiwa menunjukkan
peningkatan 23.08 persen dari tahun 2000, dengan jumlah penduduk sebesar
899.095 jiwa (hasil Sensus Penduduk 2000). Penduduk Bangka Belitung disebut
orang Melayu Bangka-Belitung[4]
Jumlah penduduk laki-laki pada
tahun 2007 sebanyak 584.178 jiwa dan penduduk perempuan sebanyak 522.479 jiwa.
Rasio jenis kelamin tahun yang sama sebesar 112, artinya pada tahun 2007 untuk
setiap 212 penduduk di Kepulauan Bangka Belitung terdapat 100 penduduk
perempuan dan 112 penduduk laki-laki. Laju pertumbuhan penduduk Provinsi
Kepulauan Bangka Belitung tahun 1980 - 1990 sebesar 2,29 persen per tahun dan
turun menjadi 0,93 persen per tahun untuk periode tahun 1990 - 2000. Adapun
laju pertumbuhan penduduk ditinjau menurut kabupaten/kota untuk periode tahun
1990-2000, laju pertumbuhan tertinggi terdapat di Kabupaten Bangka 1,06 persen,
diikuti Kota Pangkalpinang 1,03 persen dan Kabupaten Belitung 0,59 persen.
Jumlah rumahtangga di Kepulauan Bangka Belitung tahun 2007 sebanyak 272.704
rumahtangga dan kabupaten yang memiliki jumlah rumahtangga terbesar adalah
Kabupaten Bangka sebesar 65.200 rumahtangga dan yang memiliki jumlah
rumahtangga terendah adalah Belitung Timur sebesar 23.168 rumahtangga.
Adapun tingkat kepadatan
penduduk Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mencapai 67 orang per km2, apabila
dilihat menurut kabupaten/kota, Kota Pangkalpinang memiliki tingkat kepadatan
tertinggi yaitu sebesar 1.737 orang per km2 dan Kabupaten Belitung Timur
memiliki tingkat kepadatan terendah yaitu 36 orang per km2.
Ketenagakerjaan
Jumlah penduduk Kepulauan
Bangka Belitung usia 15 tahun ke atas atau yang termasuk Penduduk Usia Kerja
(PUK) pada tahun 2007 sebanyak 766.428 jiwa atau 69,25 persen dari total
penduduk. Sebesar 66,28 persen dari PUK termasuk dalam penduduk angkatan kerja
(bekerja dan/atau mencari kerja) dan sisanya 33.72 persen adalah penduduk bukan
angkatan kerja (sekolah, mengurus rumahtangga dan lainnya).
Tingkat partisipasi angkatan
kerja Kepulauan Bangka Belitung tahun 2007 sebesar 66,28 persen artinya sebesar
66 persen penduduk usia kerja aktif secara ekonomi. Adapun tingkat pengangguran
terbuka untuk Kepulauan Bangka Belitung tahun yang sama sebesar 6,49 persen,
artinya dari 100 penduduk yang termasuk angkatan kerja, secara rata-rata 5-6
orang diantaranya pencari kerja. Penduduk usia kerja yang bekerja apabila
dilihat dari sektor lapangan pekerjaan tampak bahwa sebesar 34,4 persen
penduduk usia kerja yang bekerja terserap di sektor pertanian, 20,9 persen
terserap sektor pertambangan dan sektor perdagangan menyerap 18,7 persen.
Perekonomian
Produk Domestik Regional Bruto
Pada tahun 2007, PDRB atas
dasar harga berlaku di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dengan migas sebesar
17.895.017 juta rupiah, sedangkan PDRB tanpa migas sebesar 17.369.399 juta.
Apabila dibandingkan dengan tahun sebelumnya menunjukkan peningkatan dimana
pada tahun 2006 PDRB atas dasar harga berlaku dengan migas adalah 15.920.529
juta rupiah dan PDRB tanpa migas sebesar 15.299.647 juta rupiah. Demikian juga,
PDRB atas dasar harga konstan 2000 baik dengan migas maupun tanpa migas pada
tahun 2007 menunjukkan peningkatan.
Pertumbuhan Ekonomi
Laju pertumbuhan ekonomi
Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada tahun 2007 semakin membaik dibandingkan
tahun 2006. Berdasarkan penghitungan PDRB atas dasar harga konstan 2000, laju
pertumbuhan ekonomi tahun 2007 dengan migas adalah sekitar 4,54 persen dan
pertumbuhan ekonomi tanpa migas adalah sekitar 5,37 persen. Nilai PDRB atas
dasar harga konstan 2000 pada tahun 2006 dengan migas adalah 9.053.906 juta
rupiah, pada tahun 2007 meningkat menjadi 9.645.062 juta rupiah, sementara
tanpa migasnya menjadi 9.257.539 juta rupiah.
Struktur Perekonomian
Perekonomian di Provinsi
Kepulauan Bangka Belitung tahun 2007 ditopang oleh sektor primer dan sektor
sekunder. Sektor primer meliputi sektor pertanian dan sektor pertambangan dan
penggalian. Sektor primer ini mempunyai kontribusi cukup besar masing-masing
sebesar 18,67 persen dan 20,40 persen.
Sedangkan pada sektor sekunder
yaitu sektor industri pengolahan memberikan kontribusi yang cukup besar pada
PDRB Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yaitu sebesar 22,51 persen dan untuk
sektor listrik, gas dan air bersih serta sektor bangunan masing-masing
memberikan kontribusi sebesar 0,65 persen dan 5,87 persen. Untuk sektor tersier
yaitu sektor perdagangan, hotel dan restoran, sektor angkutan dan komunikasi,
sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan dan sektor jasa-jasa mempunyai
kontribusi sebesar 34,81 persen.
Dilihat dari sisi penggunaan
PDRB atas dasar harga berlaku digunakan untuk memenuhi konsumsi rumah tangga.
Pada tahun 2007 besarnya pengeluaran konsumsi rumah tangga sebesar 9.015.057
juta rupiah atau sekitar 50,38 persen dari total PDRB. Selain itu kegiatan
perdagangan luar negeri juga mempunyai kontribusi yang cukup besar, untuk
ekspor senilai 8.741.217 juta rupiah atau 48,84 persen dan untuk impor senilai
5.284.414 juta rupiah atau 29.53 persen dari total PDRB.
Ekspor impor
Neraca perdagangan yang
meliputi kegiatan ekspor dan impor Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada
tahun 2007 terjadi peningkatan nilai surplus dibandingkan tahun sebelumnya.
Nilai ekspor pada tahun 2007 mencapai 1.254,43 juta dollar AS, atau naik 17,38
persen dibanding tahun sebelumnya. Sementara itu nilai impor menurun dari 25,09
juta dollar AS pada tahun 2006 menjadi 21,58 juta dollar AS di tahun 2007 atau
turun sebesar 16,27 persen. Besarnya surplus neraca perdagangan tahun 2007
sebesar 1.232,85 juta dollar AS. Dengan demikian nilai surplus tahun 2007 naik
sebesar 18,13 persen .
Industri
Pada tahun 2007 Provinsi
Kepulauan Bangka Belitung didominasi oleh kelompok industri kimia dan bahan
bangunan secara kuantitas, yaitu sebanyak 1187 unit usaha yang tersebar di
seluruh kabupaten/kota, terbanyak di kabupaten Bangka Tengah dengan 339 unit
usaha. Penyerapan tenaga kerja di sektor industri mencapai 19.462 orang dimana
7.375 merupakan penyerapan tenaga kerja terbesar berada di kelompok industri
logam mesin dan elektronika.
Industri kerajinan di Provinsi
Kepulauan Bangka Belitung merupakan industri yang mengolah hasil agro industri,
perikanan, perkebunan dan hasil laut. Industri kerajinan yang diusahakan
penduduk adalah kerajinan tangan berupa industri pewter dari timah,
gelang/cincin/tongkat dari akar bahar, anyaman kopiah/peci resam dan
sebagainya. Sedangkan industri kerajinan yang berupa makanan/penganan berupa
terasi, rusip, getas/kerupuk, siput gonggong dan lain-lain.
Perguruan Tinggi
Sejarah perguruan tinggi di
Bangka Belitung diawali oleh Universitas Sriwijaya Cabang Bangka pada
tahun 1970-an. Namun sesuai dengan peraturan yang tidak memperbolehkan
perguruan tinggi negeri yang membuka cabang, maka pada awal tahun 1980-an Universitas
Sriwijaya Cabang ditutup.
Kalangan pendidik di Pulau
Bangka yang peduli akan pentingnya pendidikan tinggi kemudian memprakarsai
hadirnya perguruan tinggi di Bangka dengan membentuk Yayasan Pendidikan Bangka
(Yapertiba) yang kemudian pada tahun 1982 mendirikan STIH Pertiba dengan
jurusan Ilmu Hukum dan STIE Pertiba dengan jurusan Manajemen yang berada di
Kota Pangkalpinang.
Selanjutnya Universitas Terbuka hadir di Pulau Bangka pada
tahun 1984. Yapertiba juga mendirikan STAI Bangka yang berada di Kota
Sungailiat. PT. Timah Tbk. ikut berpartisipasi mengembangkan dunia pendidikan
tinggi dengan mendirikan Politehnik Manufaktur Timah pada tahun 1994 yang
terletak di Kota Sungailiat yang memiliki 3 jurusan. Pada tahun 1990-an Pemkot
Pangkalpinang turut andil mendirikan Akademi Keperawatan guna mencetak tenaga
kesehatan yang handal sesuai kebutuhan daerah yang berlokasi di RSUD Pangkalpinang. Yapertiba
pada tahun 1999 mendirikan STIPER Bangka yang berlokasi di Kota Sungailiat pada
tahun 1999, selanjutnya STIPER Bangka pada tahun 2006 melebur menjadi bagian
dari Universitas Bangka Belitung. Pada tahun 1999 juga berdiri Akademi
Akuntansi Bakti yang didirikan oleh Yayasan Pendidikan Bakti.
Di Pulau Belitung sejumlah
pemerhati pendidikan pada tahun 1999 mendirikan Akademi Manajemen Belitung.
STIE IBEK Babel turut hadir meramaikan dunia pendidikan tinggi di Bangka yang
berdiri pada tahun 2000 berlokasi di Kota Pangkalpinang dengan jurusan
Akuntansi dan Manajemen. Tahun 2001 AMIK Atma Luhur berdiri di Kota
Pangkalpinang dengan kekhususan pada keahlian informatika, memiliki 2 jurusan
yakni Manajemen Informatika dan Komputer Akuntansi. Di tahun yang sama STIKES
Abdi Nusa juga hadir di Pangkalpinang dengan jurusan Kesehatan Masyarakat. Pada
tahun 2003 Stisipol Pahlawan 12 dan STT Pahlawan 12 didirikan di Kota
Sungailiat.
Departemene Agama pada tahun
2005 mendirikan STAIN Syekh Abdurrahman Sidik yang berlokasi di Kecamatan Mendo
Barat.
Pada tahun 2006 berdirilah Universitas pertama di Bangka
Belitung yakni Universitas Bangka Belitung (UBB) yang
merupakan cikal bakal berdirinya universitas negeri di Bangka Belitung. UBB
merupakan penggabungan 3 perguruan tinggi yaitu Polman Timah, STIPER Bangka dan
STT Pahlawan 12. Pada bulan Februari 2009 UBB resmi menjadi universitas negeri
dengan ditandatanganinya MoU penyerahan semua aset UBB dari Yayasan Cendikia
Bangka kepada Dirjen Dikti Depdiknas.
·
STISIPOL Pahlawan 12
[Pendidikan Dasar dan Menengah
Pada tahun ajaran 2007/2008 rasio murid TK terhadap
sekolah di provinsi ini sebesar 67, berarti rata-rata setiap sekolah TK yang
terdapat di Kepulauan Bangka Belitung kurang lebih memiliki 67 murid. Rasio
murid sekolah di SD sebesar 180.
Sedangkan untuk Madrasah
Ibtidaiyah rasio murid sekolah sebesar 129. Rasio murid sekolah pada jenjang
SLTP pada tahun ajaran 2006/2007 sebesar 231 artinya rata-rata sekolah SLTP
negeri menampung kurang lebih 231 murid.
Untuk Madrasah Tsanawiyah,
rasio murid sekolah sebesar 137. Pada jenjang Sekolah Menengah Umum (SMU) di
Kepulauan Bangka Belitung rasio murid sekolah sebesar 300. Adapun SMK memiliki
rasio murid sekolah sebesar 297. Sedangkan untuk Madrasah Aliyah (MA), rasio
murid sekolah MA sebesar 113.
Keagamaan
Penduduk Kepulauan Bangka
Belitung merupakan masyarakat yang beragama dan menjunjung tinggi kerukunan
beragama. Tempat peribadatan agama di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung ada
sebanyak 730 masjid,
454 musala, 115 langgar, 87 gereja protestan,
30 gereja katolik, 48 vihara dan 11 centiya. Pada pemberangkatan haji tahun 2007
jumlah jemaah haji yang terdaftar dan diberangkatkan ke tanah suci sebanyak
1012 jemaah.
Rumah adat
Secara umum arsitektur di
Kepulauan Bangka Belitung berciri Arsitektur Melayu seperti yang ditemukan di
daerah-daerah sepanjang pesisir Sumatera dan Malaka.Di daerah ini dikenal ada
tiga tipe yaitu Arsitektur Melayu Awal, Melayu Bubung Panjang dan Melayu Bubung
Limas. Rumah Melayu Awal berupa rumah panggung kayu dengan material seperti
kayu, bambu, rotan, akar pohon, daun-daun atau alang-alang yang tumbuh dan
mudah diperoleh di sekitar pemukiman.
Bangunan Melayu Awal ini
beratap tinggi di mana sebagian atapnya miring, memiliki beranda di muka, serta
bukaan banyak yang berfungsi sebagai fentilasi. Rumah Melayu awal terdiri atas
rumah ibu dan rumah dapur yang berdiri di atas tiang rumah yang ditanam dalam
tanah.
Berkaitan dengan tiang, masyarakat Kepulauan Bangka
Belitung mengenal falsafah 9 tiang. Bangunan didirikan di atas 9 buah tiang,
dengan tiang utama berada di tengah dan didirikan pertama kali. Atap ditutup
dengan daun rumbia. Dindingnya biasanya dibuat dari pelepah/kulit kayu atau
buluh (bambu). Rumah Melayu Bubung Panjang biasanya karena ada penambahan bangunan
di sisi bangunan yang ada sebelumnya, sedangkan Bubung Limas karena pengaruh
dari Palembang. Sebagian dari atap sisi bangunan dengan arsitektur ini
terpancung. Selain pengaruh arsitektur Melayu ditemukan pula pengaruh
arsitektur non-Melayu seperti terlihat dari bentuk Rumah Panjang yang pada
umumnya didiami oleh warga keturunan Tionghoa. Pengaruh non-Melayu lain datang
dari arsitektur kolonial, terutama tampak pada tangga batu dengan bentuk
lengkung.
Atraksi/Event Budaya
·
Ruwah
·
Kongian
·
Imlek
·
Selikur
·
Nyukur
Kain tradisional :Kain Cual
Senjata tradisional
Parang bangka bentuknya
seperti layar kapal.
Alat ini digunakan terutama untuk perkelahian jarak pendek. Senjata ini mirip
dengan golok di Jawa, namun ujung
parang ini dibuat lebar dan berat guna meningkatkan bobot supaya sasaran dapat
terpotong dengan cepat. Parang yang berdiameter sedang atau sekitar 40 cm juga dapat digunakan
untuk menebang pohon
karena bobot ujungnya yang lebih besar dan lebih berat.
Kedik adalah alat tradisional yang
digunakan sebagai alat pertanian. Alat ini digunakan di perkebunan terutama di
kebun lada. Dalam
menggunakannya si pemakai harus berjongkok dan bergerak mundur atau menyamping.
Alat ini digunakan dengan cara diletakkan pada tanah dan ditarik ke belakang.
Alat ini efektif untuk membersihkan rumput pengganggu tanaman lada. Kedik
biasanya digunakan oleh kaum wanita karena alatnya kecil dan relatif lebih
ringan. Kedik hanya dapat digunakan untuk rumput jenis yang kecil atau rumput
yang tumbuh dengan akar yang dangkal, bukan ilalang.
Media Massa Lokal
·
Harian Rakyat Pos
·
Harian Metro Bangka Belitung
·
Radio Jendela Serumpun Sebalai ( JESS )
·
Radio Sonora
·
Radio Eljohn
·
Radio Prima
·
Bangka TV
·
Radio Pratama FM 99.2 MHz
·
Radio Republik Indonesia Sungailiat Provinsi
Kepulauan bangka Belitung FM 96,4 MHz (Media Lokal sekaligus Media Nasional)
·
Radio Bernada FM 98.0 MHz, Sungailiat
Tokoh-tokoh
·
Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra (Mantan
Mensesneg, Menhuham)
·
Andrea Hirata (Penulis Buku Laskar Pelangi)
·
H M. Arub, SH (Mantan Wakil Gubernur Sumatera
Selatan)
·
Prof. Dr. Sofian Effendi, MPIA (Mantan Rektor
UGM Yogyakarta)
·
Prof. Dr. Djalaluddin (Mantan Rektor IAIN Raden
Fatah Palembang)
·
Prof. Dr. Djamaluddin Ancok (Guru Besar
Psikologi UGM)
·
Antasari Azhar, SH (Mantan Ketua KPK)
·
Marsekal Muda TNI Dr. Rio Mendung (Wakil
Gubernur Lemhanas)
·
Yan Juanda Saputra, SH, MH (Advokat)
·
Secarpiandy, SH (Advokat)
·
H. Emron Pangkapi (Ketua DPP PPP)
·
H. Muhammad Muas, SH (Fungsionaris DPP Partai
Golkar)
·
Drs. Agus Tarmizi (mantan Dubes RI untuk
Austria)
·
Idham Kholid
Anggota DPR RI Daerah Pemilihan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung
Periode 2004-2009
·
Ir. H. Azhar Romli, MM dari Fraksi Partai Golkar
·
Ir. Rudianto Tjen dari Fraksi PDI Perjuangan
·
Dr. Yusron Ihza, LLM dari Fraksi Partai Bulan
Bintang
Periode 2009-2014
·
Ir. Rudianto Tjen dari Fraksi
PDI Perjuangan
·
Ir. Basuki Tjahaya Purnama, dari Fraksi Partai
Golkar
·
H. Paiman dari Fraksi
Partai Demokrat
Periode 2004-2009
Periode 2009-2014
·
Tellie Gozelie, SE
·
Hj.Noorhari Astuti
·
Drs.H.Rosman Johan
·
Bahar Buasan, ST
·
Syuhada
·
Delon
·
Kiki KDI
Ilmuwan dan akademisi
·
Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, SH, MSc (Guru
Besar Hukum Tata Negara UI)
·
Dr.
Sofian Effendi, MPIA (Guru Besar Administrasi Publik UGM)
·
Prof. Dr.
Jamaluddin Ancok (Guru Besar Psikologi UGM)
·
Prof. Dr. Ir. M.T. Zen
(Guru Besar Geologi ITB)
·
Prof. Dr. Harun
Al Rasyid, SH (Guru Besar Hukum Tata Negara UI)
·
Prof. Dr.
Jalaluddin Rakhmat (Guru Besar IAIN Raden Patah)
·
Antasari
Azhar (Mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi)
·
Prof. Dr.
Bambang Purwanto, MA, Ph.D (Guru Besar Sejarah Asia UGM)
·
drg.
Erwan Sugiatno, M.S., Sp.Pros(K)., Ph.D. (Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan,
Alumni, Pengembangan Usaha dan Penelitian UGM)
Alat musik dan tarian tradisional
·
Dambus
·
Suling
·
Rebana
·
Rudat
Masakan/makanan tradisional
Lempah kuning adalah masakan
khas dari Pulau Bangka. Bahan dasar makanan ini adalah ikan laut dan dapat juga
memakai daging, yang kemudian diberi bermacam bumbu dapur seperti kunyit,
bawang merah dan putih serta lebngkuas dan terasi atau belacan yang khas dari
daerah Bangka.
Getas atau Keretekadalah makanan yang
berbahan dasar ikan dan terigu yang buat dengan berbagi bentuk yang rasanya
hampir sama dengan kerupuk.
Rusip adalah makanan yang terbuat
dari bahan dasar ikan bilis yang dicuci bersih dan diriskan secara steril,
kemudian dicampur dengan garam yang komposisinya seimbang. Di samping itu
ditambahkan juga air gula kabung agar aroma lebih terasa, kemudian disimpan
sampai menjadi matang tanpa proses pemanasan. Adonan ini harus ditutup dengan
wadah yang rapat agar tidak tercampur dengan benda asing apapun. Dahulu
biasanya proses adonan ini ditempatkan dalam guci yang bermulut sempit. Suhu
ruangan harus dijaga. Makanan ini dapat dimasak dulu atau dimakan langsung
dengan lalapan.
Calok Terbuat dari udang kecil segar
yang disebut dengan udang cencalo/rebon. Udang dicuci bersih dan dicampur
dengan garam sebagai pengawet agar tahan lebih lama. sangat cocok untuk teman
lauk nasi hangat dengan lalapan ketimun, tomat dan sayuran segar lainnya. Calok
juga enak sebagai campuran omelete telur, rasanya akan lebih gurih dan nikmat.
Teritip . Tetirip adalah sejenis tiram kecil yang biasanya
hidup di tepi pantai dan melekat pada bebatuan. dagingnya sangat kecil tapi
memiliki rasa da tekstur seperti tiram pada umumnya. biasanya dimakan segar
atau di asinkan dengan garam jika ingin disimpan.Teritip sangat nikmat jika
ditambahkan dengan cabe merah dan jeruk kunci (sejenis jeruk asam khas bangka).
Lempok, makanan sejenis dodol yang
terbuat dari campuran gula pasir dan buah-buahan tertentu (umumnya cempedak,
nangka dan durian). Buah yang digunakan dilembutkan sampai memyerupai bubur,
kemudian dicampur dengan gula pasir dengan perbandingan tertentu dan dipanaskan
di atas api sampai kecoklatan dan mudah dibentuk. Selama pemanasan, campuran harus
selalu diaduk.
Masyarakat keturunan Tionghoa
dari daerah ini terkenal karena masakannya serta kue-kue basahnya. Mie Bangka, Martabak
Bangka atau Hok Lopan atau Van De Cock, Ca Kwe dan
berbagai jenis makanan lainnya sering kali dijual oleh kelompok masyarakat ini
yang merantau ke kota-kota besar di luar provinsi ini.
Daftar gubernur
|
No.
|
Foto
|
Nama
|
Dari
|
Sampai
|
Keterangan
|
|
1.
|
22 April 2002
|
Penjabat Gubernur
|
|||
|
2.
|
26 April 2007
|
|
|||
|
3.
|
sekarang
|
|
] Sejarah kepahlawanan Bangka
Tempat wisata
Pulau Bangka sangat terkenal
dengan keindahan pantainya. Pada umumnya pantai di Bangka berpasir putih dan
halus namun ada juga yang berwarna kuning keemasan seperti bulir padi.
Pantainya landai dengan ombak lumayan besar dan dikelilingi oleh batu vulkanik
yang unik dan indah. Beberapa pantai yang terkenal di Pulau Bangka antara lain:
Khusus Pulau Belitung merupakan pulau yang indah dengan
pasir putih, pemandangan unik dengan pantai pasir putih yang asli dihiasi oleh
batu-batu granit yang artistik dan air laut sejernih kristal dan dikelilingi
oleh ratusan pulau-pulau kecil. Salah satu pantai terbaik dan unik di
Indonesia, seperti:
Selain objek wisata pantai terdapat juga obyek wisata
lainnya antara lain:
·
Pesanggrahan Bung Karno Bukit Menumbing
·
Wisma Ranggam Mentok
·
Rumah Mayor Mentok
·
Masjid Jami' di Mentok
·
Tangga Seribu Mentok
·
Museum Timah Pangkalpinang
·
Masjid Jami' Pangkalpinang
·
Perkampungan Cina Tradisional Simpang Gedong
·
Taman Pha Kak Liang di Belinyu
·
Kolam Pemandian Air Panas di Pemali
·
Vihara Dewi Kuan Im di Sungailiat
·
Lokasi Film Laskar Pelangi di Gantung
·
Vihara Budhayana Dewi Kwam In Damar
·
Bendungan Pice Gantung
·
A1 Bukit Samak Manggar
·
Museum Buding
·
Situs Raja Balok di Desa Balok Kecamatan Dendang
·
Perigi Belande Buding
Prasarana Transportasi
·
Bandar Udara Depati Amir di Pangkalpinang
·
Bandar Udara HAS Hanandjuddin di Tanjung Pandan
·
Pelabuhan Pangkalbalam di Pangkalpinang
·
Pelabuhan Tanjung Gudang di Belinyu
·
Pelabuhan Tanjung Kalian di Mentok
·
Pelabuhan Sadai di Sadai, Toboali
·
Pelabuhan Tanjung Pandan di Tanjung Pandan
(telah berganti nama menjadi "Pelabuhan Laskar Pelangi")
·
Pelabuhan Tanjung Batu
·
Pelabuhan Tanjung Ru di Pegantongan
·
Pelabuhan Manggar
Makna Hari Ibu
Hari ini tanggal 22 Desember
2008 kita memperingati Hari Ibu yang dirayakan secara nasional. Di beberapa
negara juga terdapat peringatan Hari Ibu yang lebih dikenal dengan nama Mother’s Day.
Walaupun ada perbedaan hari seperti di Amerika dan Kanada merayakan Hari Ibu
pada hari Minggu di minggu kedua bulan Mei, namun maknanya tetap sama. Kata ibu
disini mencangkup Ibu, Nenek maupun Calon Ibu.
Sejarah hari ibu di indonesia
sendiri dimulai dengan diadakannya kongres pertama organisasi-organisasi wanita
di Jogjakarta pada tanggal 22 Desember 1928. Kongres perempuan ini kini dikenal
dengan nama Kongres Wanita Indonesia. Organisasi perempuan sendiri sudah
bermula sejak 1912 yang terilhami oleh pejuang wanita nasional seperti M. Christina
Tiahahu, Cut Nya Dien, Cut Mutiah, R.A. Kartini, Walanda Maramis, Dewi Sartika,
Nyai Achmad Dahlan, Rangkayo Rasuna Said dan lain-lain. ( sumber :
http://yulian.firdaus.or.id/2004/12/22/sejarah-hari-ibu/ )
Jadi jelas kongres perempuan
ini bertujuan atau memiliki makna untuk ikut mengambil bagian dalam pergerakan
nasional. Saat ini Indonesia sudah merdeka namun wanita selalu mengambil bagian
dalam rangka pembangunan nasional. Di susunan kabinet menteri sudah sering
wanita menduduki posisi menteri, bahkan menjadi presiden RI ke-5, yaitu
Megawati Soekarno Putri. Peran wanita dalam pemerintahan pusat maupun daerah
juga tidak dapat dipungkiri.
Ditengah keterbatasan wanita,
ternyata wanita mampu untuk ikut berpartisipasi dalam dominasi dunia pria di
Indonesia. Kita sudah sering melihat prestasi wanita dalam berbagai bidang
seperti politik, sosial, teknologi, maupun olah raga. Walaupun masih banyak
orang yang merendahkan kaum wanita namun mereka tetap dapat menunjukkan
eksistensinya dalam berbagai bidang. Jika demikian apakah kita pantas untuk
merendahkan martabat kaum wanita?
Terlepas dari peran serta
wanita dalam berbagai bidang, hendaknya kita memaknai Hari Ibu karena peran
besarnya dalam melahirkan dan merawat kita sehingga menjadi pribadi yang besar
saat ini. Seringkali kita melihat di samping pemimpin besar selalu ada wanita
yang tangguh. Baik sebagai istri maupun sebagai Ibu kita akan selalu melihat
fenomena ini di Dunia. Jadi kita hendaknya harus selalu menghormati kaum wanita
karena peran besar seorang Ibu yang tak dapat digantikan oleh kaum pria yaitu
melahirkan Anak. Tanpa beliau kita tidak ada di muka bumi ini.
Mario Teguh menyebutkan dalam
Golden Ways, hanya dengan memikirkan atau mengucapkan kata ibu maka kita
langsung teringat dengan jasa Ibu kita, membuat diri kita terenyuh dan berpikir
apakah saya sudah berbuat baik untuk membalas jasa besar Ibu kita? Jasa ibu
sendiri tidak bisa kita gantikan dalam kehidupan ini.
Sebagai anak maka patutlah
bagi kita untuk mendengarkan nasehat beliau dan merawat beliau kelak ketika
sudah berumur. Sebagai seorang suami maka hendaknya suami selalu menghormati
pendapat istri dan tidak menganggap rendah istrinya sehingga melakukan
kekerasan rumah tangga karena kelemahan wanita.
Marilah kita memaknai Hari Ibu
ini dengan lebih menghormati jasa dan peran wanita dalam hidup kita.
Sejarah Kota Muntok
Pulau Siantan ternyata punya
peranan penting dalam sejarah berdirinya kota Muntok, ibukota kabupaten Bangka
Barat, Provinsi Bangka Belitung. Bahkan konon adalah orang-orang dari Siantan
pula yang pertama kali menemukan timah di Muntok, hingga kemudian menyebabkan
orang dari berbagai penjuru ramai kemari. Adalah dua
bersaudara yakni Pangeran Anom dan Pangeran Krama Jaya yang berasal dari
Palembang yang mulanya menetap di Siantan. Kedua bangsawan itu sengaja pergi
dari Palembang karena menolak penobatan pamannya Sri Teruno menjadi Sultan
Palembang yang kemudian bergelar Sultan Agung Komarudin Sri Teruno.
Sebelum
ke pulau Siantan, kedua pangeran itu sempat pula menetap di Johor, namun karena
silang sengketa dengan penguasa Johor mereka memilih meninggalkan negeri itu.
Di pulau Siantan, kedua bangsawan Palembang ini menikah dengan perempuan
setempat. Pangeran Krama Jaya menikah dengan seorang perempuan Cina muslim
bernama Zamnah versi Carita Bangka atau Yang Mariam berdasarkan Hikayat Siak.
Zamnah atau Yang Mariam merupakan anak daripada Wan Abdul Jabar bin Abdul
Hayat.
Berkat
pengalaman dan kharisma, mereka Pangeram Anom dan Pangeran Krama Jaya menjadi
orang yang berpengaruh di Siantan, mereka kemudian mencoba kembali ke Palembang
dengan membawa sejumlah pasukan. Pangeran Anom yang sejak semula memang tidak
setuju dengan penobatan pamannya sebagai Sultan Palembang menginginkan jabatan
yang dulu dipegang ayahandanya itu yang sudah barang tentu ditolak pamannya.
Namun
karena Pangeran Anom mendapat dukungan dari orang-orang di pedalaman, ambisinya
untuk menjadi Sultan Palembang semakin kuat. Tetapi keinginannya itu tidak
hanya menuai konflik dengan pamannya, namun juga dengan Pangeran Krama Jaya
yang dulu pernah menetap bersama ia di pulau Siantan. Salah satu sebab
selisihnya dengan Pangeran Krama Jaya adalah karena Krama Jaya telah menikah
dengan sepupunya atau anak Sultan Agung Komarudin Sri Teruno, janda daripada
putra Pangeran Purbaya almarhum. Konflik pun semakin memanas terutama setelah
adanya campur tangan Belanda. Pangeran Anom akhirnya mundur dari Palembang
hingga ke daerah pedalaman, dan kemudian berlabuh di Jambi.
Setelah
Sultan Agung Komarudin Sri Teruno wafat, Pangeran Krama Jaya dinobatkan menjadi
Sultan Palembang dengan gelar Sultan Mahmud Badaruddin I. Sultan Mahmud giat
melaksanakan pembangunan, beliau membangun banteng, Masjid Agung, dan
kanal-kanal. Tak hanya di Palembang ia bahkan juga membangun kota baru yakni
kota Mentok atau kota Muntok yang terletak di pulau Bangka.
Mentok
didirikan sebagai sebagai penghormatan terhadap istri pertamanya yang berasal
dari pulau Siantan. Bahkan istrinya yang bergelar Mas Ayu Ratu itu pulalah yang
menetapkan letak kota Mentok yakni di pesisir Barat pulau Bangka, dekat gunung
Menumbing.
Seperti
disampaikan Djohan Hanafiah dalam seminar sehari tentang Hari Jadi Kota Mentok
tahun 2009 silam sebagaimana ditulis oleh Sumardoni 14 Agustus 2009 dalam media
Berita Musi, kata Mentok sendiri berasal dari kata “Entok” dari bahasa asli
Siantan yang berarti “itu” yang diucapkan Mas Ayu Ratu saat menentukan kota
yang akan dibangun Kesultanan Palembang itu. Pilihan terhadap daerah Barat di
pulau Bangka ini, selain tanahnya subur, juga lebih dekat dijangkau dari kota
Palembang.
Kota
Mentok yang mulai di bangun pada bulan September 1734 menjadi bertambah maju
terutama setelah sejumlah orang Siantan yakni dari keluarga Mas Ayu Ratu
menemukan tambang timah di pesisir kota itu. Berbagai suku bangsa di nusantara
maupun Asia pun ramai berdatangan ke Mentok untuk bekerja sebagai penambang
timah atau berdagang. Konon keturunan orang-orang Siantan dari keluarga Mas Ayu
Ratu di Mentok sampai saat ini masih bertahan. Para lelakinya, yang masih murni
keturunan keluarga Mas Ayu Ratu, mendapat gelar panggilan Abang, sedangkan
perempuan mendapat gelar Yang.
Namun
demikian, tak banyak dari orang di Bangka Barat yang tahu bahwa Siantan yang
dimaksud dalam sejarah berdirinya kota Mentok adalah pulau Siantan yang terletak
di gugusan Kepulauan Anambas dan berada di wilayah Provinsi Kepulauan
Riau-Indonesia. Banyak yang mengira bahwa Siantan yang dimaksud berada dalam
wilayah Kesultanan Johor-Malaysia. Hal ini dapat dimaklumi, karena memang pulau
Siantan dulunya berada dibawah kekuasaan Johor sampai kelak Traktat London
memisahkannya. Bahkan Wan Abdul Hayat yang bernama asli Lim Tau Kian yang
semula adalah seorang bangsawan dari Cina, juga adalah orang kepercayaan Sultan
Johor yang dipercayakan untuk memerintah di negeri Siantan. Disamping itu
perkembangan Siantan yang dulu kerap menjadi tempat pelarian politik bangsawan
Bugis, Cina, dan Johor sendiri seperti tenggelam oleh zaman terutama ketika
wilayah ini dihilangkan statusnya sebagai pusat kewedanaan Pulau Tujuh dan hanya
menjadi sebuah kecamatan yang terisolir dan miskin dibawah rezim Orde Baru.
Kini pulau Siantan sejak pertengahan 2008 telah ditetapkan sebagai ibukota Kabupaten Kepulauan Anambas, dan semoga perkembangannya sejalan dengan nama mashurnya yang sempat tercatat dalam beberapa literatur sejarah Melayu tempo dulu
Kini pulau Siantan sejak pertengahan 2008 telah ditetapkan sebagai ibukota Kabupaten Kepulauan Anambas, dan semoga perkembangannya sejalan dengan nama mashurnya yang sempat tercatat dalam beberapa literatur sejarah Melayu tempo dulu
SEPENGGAL CERITA MUNTOK
Tugu Bung Hatta di depan
Pesanggrahan Mentok, terletak di pusat kota Mentok, Kabupaten Bangka Barat. Di
rumah itulah Bung Karno menghabiskan sebagian besar waktu saat diasingkan tahun
1949. Pesanggrahan itu kini menjadi penginapan.”Nak, kita harus berjuang terus.
Pantang mundur!” Kalimat itu membekas dalam ingatan RA Indrawati (79) kendati
diucapkan 59 tahun silam oleh Ir Soekarno. Kata-kata presiden pertama RI yang
diasingkan ke Bangka itulah yang mengobarkan semangat Indrawati untuk terus
berjuang mengusir Belanda yang hendak menguasai kembali Indonesia.
Indrawati—pekerja palang merah
TKR di Mentok—tidak sendiri. Masyarakat Residentie Banka Belliton en
onderhorigheden alias Keresidenan Bangka Belitung waktu itu begitu bersemangat
mempertahankan kemerdekaan. Kehadiran sejumlah negarawan ke tempat yang disebut
pengasingan meninggalkan sebuah kesan tersendiri, terutama bagi warga Bangka,
terlebih yang berdomisili di Mentok.
Para tokoh yang sempat tinggal
di Bangka mengalami nasib serupa, yakni dibuang oleh Belanda setelah
Yogyakarta, ibu kota Indonesia, diduduki kembali oleh Belanda dalam agresi
militer II, 19 Desember 1948. Selain Bung Karno, Wapres Bung Hatta, Menteri
Luar Negeri Agus Salim, M Roem, Ali Sastroamijoyo, Komodor Udara Suryadarma,
serta Mr AG Pringgodigdo juga dibuang di Bangka selama lima hingga tujuh bulan,
mulai akhir Desember 1948 sampai pertengahan tahun 1949.
Sebagian catatan tentang
pembuangan para tokoh di Bangka menuliskan bahwa keberadaan para tokoh di pulau
timah ini dimanfaatkan untuk bersantai. Pendapat ini ada benarnya juga kendati
ada sejumlah gerakan tersembunyi yang dikerjakan para tokoh di tempat mereka
tinggal ketika itu.
BANYAK WAKTU
Para tokoh ini menghabiskan
banyak waktu di dua tempat, yakni Bukit Menumbing dan Pesanggrahan Mentok yang
keduanya terletak di kota Mentok. Mentok—sebagian orang juga menyebut
Muntok—terletak sekitar 133 kilometer dari Kota Pangkal Pinang, ibu kota
Provinsi Bangka Belitung kini. Sekitar dua abad sebelum tahun 1913, Mentok
adalah ibu kota Bangka sebelum dipindahkan ke Pangkal Pinang.
Tempat pengasingan di Bukit
Menumbing kerap digunakan oleh Bung Hatta, Suryadarma, Assaat, dan Abdul Gafar
Pringgodigdo. Bung Karno, Agus Salim, M Roem, dan Ali Sastroamijoyo banyak
menghabiskan waktu di Pesanggrahan Mentok.
”Bung Karno jarang ke
Menumbing karena di sana dingin. Beliau lebih sering ke Pesanggrahan Mentok.
Ini, kamar nomor 12, yang menjadi kamar beliau,” kata Salikin SK, putra Mentok
yang mewarisi kejadian 1948-1949 dari kisah-kisah orangtua serta bangunan fisik
bersejarah yang masih tersisa di Mentok.
Kedua tempat itu berjarak
sekitar 11 kilometer. Nasibnya kini sama: dijadikan tempat penginapan umum
kendati tamu yang datang hanya kadang-kadang saja.
PENGANAN "PELITE"
Pelite menjadi ”saksi sejarah”
sebuah masa yang begitu berharga bersama bapak bangsa. Penganan kebanggaan
masyarakat kota Mentok yang terbuat dari olahan tepung beras, santan, dan gula
yang ditempatkan di wadah mungil dari daun pandan ini merupakan salah satu
makanan kesukaan Bung Karno.
Tidak mengherankan, ketika
Bung Karno mengajak masyarakat Mentok berjalan-jalan menyusuri pantai dari
Pesanggrahan Mentok ke Tanjung Kalian, pelite juga ikut disiapkan sebagai
hidangan pelepas lelah di dekat mercu suar Tanjung Kalian.
”Ada sekitar 70 orang yang
ikut berjalan-jalan. Sebagian besar anak muda: wanita dan pria PORI,” tutur
Indrawati di sela-sela acara Napak Tilas Bung Karno yang diselenggarakan Dinas
Perhubungan, Kebudayaan, dan Pariwisata Kabupaten Bangka Barat, 30 Agustus
2008.
Aktivis PORI Abu Hurairah yang
ketika itu berusia 19 tahun juga mengenang acara jalan bersama itu sebagai
sebuah kegiatan rekreasi. ”Saya masih anak-anak ketika itu sehingga berjalan di
bagian belakang rombongan. Tak ada ucapan penting yang disampaikan Soekarno.
Acara itu hanya jalan-jalan. Bung Karno kalau jalan cepat sekali,” urai Abu
yang kini berusia 78 tahun.
AA Bakar dalam buku Kenangan
Manis dari Menumbing yang diterbitkan Balai Pustaka, 1993, menyebutkan kegiatan
jalan bersama Soekarno sebagai kenangan tidak terlupakan bagi masyarakat
Bangka. Sepanjang jalan dinyanyikan lagu mars. Adik ipar bestuurshoofd atau
kepala pemerintahan Bangka Barat—yang beribu kota di Mentok—ini juga pernah
menjadi pelayan Bung Hatta dan sejumlah tokoh yang banyak menghabiskan waktu di
Bukit Menumbing.
Pelite yang disediakan para
ibu di Mentok mengesankan bahwa acara pada tahun 1949 itu tidak lebih sebagai
sebuah hiburan bagi masyarakat. Maklum, di masa yang rawan itu, masih banyak
mata-mata Belanda yang berseliweran.
Bendera merah-putih saja tidak
boleh dikibarkan di Bangka. Namun, bukan Bung Karno dan para petinggi republik
ini jika tidak bisa mengatasi kondisi itu. Bendera merah-putih digantikan
dengan biru-putih yang disamarkan sebagai bendera PORI.
PORI merupakan akronim dari
Perkumpulan Olahraga Republik Indonesia, cikal bakal Komite Olahraga Nasional
Indonesia (KONI) saat ini. PORI didirikan di Mentok pada masa itu untuk
menggalang persatuan para pemuda. Organisasi politik sudah pasti akan dilarang
oleh Belanda sehingga peluang untuk mengobarkan semangat perjuangan dilakukan
lewat bidang olahraga.
Organisasi lain yang didirikan
Bung Karno adalah Angkatan Pemuda Indonesia (API). Sayangnya, bangunan kantor
API kini berubah menjadi gardu pemuda.
Selain menggelar jalan
bersama, Bung Karno juga kerap mengunjungi warga setempat sekadar
bercengkerama. Di situlah semangat berjuang terus digelorakan kendati tidak
secara terbuka.
”Bung Karno banyak bercerita
tentang Bangka di masa dulu. Dia begitu paham tentang sejarah Bangka. Ini
disampaikan juga kepada warga yang dikunjunginya di rumah,” kenang Abu
Hurairah.
KEMENANGAN
Salah satu ruangan di
Pesanggrahan Mentok menjadi tempat negosiasi pimpinan Indonesia yang tengah
diasingkan dengan pihak Belanda. Di situ mulai didesakkan pengembalian
kedaulatan Indonesia dengan mengembalikan Yogyakarta sebagai ibu kota
Indonesia.
Pilihan Belanda untuk
mengasingkan pimpinan Indonesia ke Bangka menjadi kurang tepat. Masyarakat
Bangka bahkan mendorong kemerdekaan penuh Indonesia. Tanggal 21 Februari 1949,
Soekarno menuliskan bahwa rakyat Bangka bersemangat bergabung dengan Indonesia.
Perpisahan masyarakat Mentok
dengan para tokoh republik ini dilaksanakan 5 Juli 1949 setelah Yogyakarta
dikembalikan menjadi ibu kota Indonesia. Tanggal 6 Juli, rombongan Soekarno
meninggalkan Mentok menuju Pangkal Pinang, dan sehari kemudian terbang ke
Yogyakarta.
Di kancah internasional,
terbetik slogan van Bangka begint de victorie, yang oleh M Roem diterjemahkan
menjadi ”dari Bangka datangnya kemenangan”. Sebuah harapan menyelinap setelah
59 tahun peristiwa itu berlalu: akankah Bangka kembali menorehkan sejarah besar
di bangsa ini? (Sumber : Kompas Senin, 22 September 2008/ Agnes Rita
Sulistyawaty
MUNTOK KOTA SERIBU
Sekitar tahun 1724-1725 M, Sultan
Mahmud Badaruddin I (Kesultanan Palembang) memerintahkan istrinya, Mas
Ayu Ratu Zamnah, beserta para petinggi kesultanan untuk berangkat
dan memilih lokasi di Pulau Bangka untuk tempat tinggal keluarganya dari Pulau
Siantan. Salah satu petinggi yang berangkat adalah Kepala Negeri Siantan yang
bernama Wan Akub Bin Wan Awang bersama saudaranya Wan
Serin serta keluarga dari Pulau Siantan diperintahkan untuk
mendirikan tempat tinggal di daerah tersebut. Maka dipilihlah daerah
semenanjung ada ada di Pulau Bangka.
Pada perkembangan berikutnya,
terbentuklah suatu komunitas kecil di daerah itu, disebutlah daerah itu dengan
nama “Muntok” , dan Wan Akub dijadikan Kepala
Pemerintahan yang pertama kali di Muntok. Wan Akub juga menjadi
Kepala Urusan Penambangan Timah di Pulau Bangka yang berkedudukan di Muntok
dengan gelar Datuk Rangga Setia Agama.
Kepala Pemerintahan di Muntok
selanjutnya adalah Wan Abdul Jabar dari Pulau
Siantan dengan gelar Datuk Dalam. Beliau adalah
mertua dari Sultan Mahmud Badaruddin I (Wan
Abdul Jabar adalah Ayahanda Mas Ayu Ratu Zamnah).
Meninggalnya Wan Abdul Jabar pada tahun 1730, pemerintahan di
Muntok dipegang oleh Putera Wan Serin, yaitu Wan
Usman dengan gelar Rangga Usman. Pada masa
pemerintahannya, Rangga Usman mempunyai
kekuasaan di seluruh Pulau Bangka.
Sultan Mahmud
Badaruddin Iwafat pada tahun 1756, maka Kesultanan Palembang
digantikan oleh Ahmad Najamuddin, dan keadaan di Muntok pada
saat itu juga sedang berkabung karena wafatnya Rangga Usman.
Menyikapi keadaan itu, maka Sultan Palembang yang baru (Ahmad
Najamuddin) mengangkat Temenggung dari Keturunan Bangsawan Melayu
Pulau Siantan untuk menjadi Kepala Pemerintahan di Muntok sekaligus menjadi
Kepala Pemerintahan Pulau Bangka
Bermula dari Temenggung
Dita Menggala (Abang Pahang), Temenggung Kertamenggala
(Abang Ismail), Temenggung Kartanegara I (Abang Muhammad Toyib)
dan Temenggung Kartanegara II (Abang Muhammad Ali).
(Sumber naskah: M. Isa Djamaludin
Sejenak kita menengok ke belakang, Wisma Ranggam ini
merupakan saksi bisu sepenggal kisah hidup dan perjuangan Bung Karno, Bung
Hatta serta tokoh-tokoh perjuangan kemerdekaan Indonesia selama masa
pengasingan di Bangka medio 1948-1949. Sejarah mencatat, para pemimpin RI mulai
diasingkan Belanda ke Muntok pada Desember 1948. Mereka antara lain Bung Hatta,
Mr Mohammad Roem, Mr Pringgodigdo, Mr Assa’at, Komodor Suryadarma, dan Ali
Sostroamidjoyo. Dua bulan kemudian, tepatnya 6 Februari 1949, menyusul,
Presiden RI Ir Soekarno serta Menlu H Agus Salim yang sebelumnya sempat
diasingkan di Prapat, Sumatera Utara.
Pesanggrahan Muntok adalah nama asli Wisma Ranggam.
Kata pesanggrahan diambil dari bahasa Sansekerta yang berarti tempat
peristirahatan atau penginapan. Perubahan nama menjadi Wisma Ranggam semenjak
pengelolaan aset peninggalan Belanda ini dibawah Banka Tin Winning. Sejak itu
nama Wisma Ranggam lebih populer di telinga masyarakat Bangka, bahkan mungkin
dunia sekalipun. Dahulunya selain dijadikan tempat menginap, Wisma Ranggam juga
digunakan sebagai tempat pertemuan memperjuangkan Bangsa Indonesia lepas dari
belenggu penjajah Belanda kala itu. Bicara soal Wisma Ranggam, tak lepas dari
Pesanggrahan Menumbing. Bung Karno selama pengasingan di Muntok, naik-turun
menggunakan mobil BN-1 dari Pesanggrahan Menumbing di puncak Bukit Menumbing,
ke Wisma Ranggam. Di wisma ini pula, tepatnya 7 Mei 1949, para tokoh bangsa itu
menggodok konsep perjanjian Roem Royen yang menetapkan pengembalian kekuasaan
RI ke Yogyakarta. Menyusuri kamar-kamar tempat Bung Karno, Bung Hatta dan
pejuang kemerdekaan lainnya pernah menginap di sana, terasa seperti
bernostalgia ke masa lalu. Namun tak banyak lagi barang-barang peninggalan Bung
Karno yang bisa dijumpai di sana. Di bekas kamar Bung Karno, hanya dua-tiga
foto besar Sang Proklamator, ada pula foto-foto kenangan 60 tahun lebih silam
saat beberapa bulan masa pengasingan. Sedangkan beberapa fasilitas menginap
seperti ranjang dan peralatan lainnya sudah tak ada lagi di ruangan berukuran
sekitar empat meter kali lima meter itu.
Tetapi sayangnya event seperti ini kurang diekspos
secara maksimal oleh pemda setempat, padahal kesempatan ini cukup baik bagi
pembangunan pariwisata kota di Pesisir Barat itu. Muntok memiliki objek sejarah
yang cukup potensial. Sejarah kota Muntok hingga tempat-tempat pengasingan para
pejuang kemerdekaan ada di kota tua ini. Di Muntok, wisatawan dapat pula
menikmati kemegahan bangunan tua yang masih kokoh, mercusuar Tanjung Kelian
yang dibangun tahun 1862. Dari puncak bangunan itu, pengunjung bisa bisa
melihat pemandangan pantai serta sekelilingnya bahkan bangkai kapal sisa Perang
Dunia II.
Tak saja objek sejarah, di Muntok juga memiliki pantai
dengan panorama alam yang khas, yakni matahari saat tenggelam menjelang petang.
Cobalah ketika petang menjelang kita duduk di tepi pantai Tanjung Kalian atau
Batu Rakit. Menikmati angin petang sepoi-sepoi dan matahari senja yang memerah
sebelum ditelan gelap. Panorama seperti ini tak dimiliki oleh pantai lainnya di
Pulau Bangka yang memang menonjolkan objek wisata pantai ini.
Sayang setelah berdiri sebagai ibukota Kabupaten
Bangka Barat enam tahun silam, pariwisata kota Muntok dan Bangka Barat
keseluruhan masih begitu-begitu saja. Bisa dikatakan jalan di tempat.
Infrastruktur penunjang pariwisata, fasilitas penginapan, transportasi, hingga
industri pendukung masih serba minim. Begitu pula dengan pemeliharan objek
wisata, terutama tempat-tempat bersejarah, bangunan tua, makam tangga seribu
tempat para pendiri kota Muntok ini dan objek wisata alam seperti batu balai.
Semuanya terbengkalai.
Muntok
menjadi kota bersejarah, karena sejak abad 19, di wilayah itu telah terdapat
sebuah pelabuhan yang dibangun penjajah Belanda. Pelabuhan Muntok awalnya
bernama Minto (dalam peta Kolonial Belanda) ini tercatat sebagai pelabuhan
tertua di Pulau Bangka. Dibangun pada masa Inggris berkuasa di Indonesia tahun
1812 hingga 1816.
Tak hanya itu, Muntok menjadi
begitu bersejarah. Sebab, di tahun 1949, beberapa tokoh pendiri Republik
Indonesia sempat ditahan dan diasingkan di sini. Ada dua tempat bersejarah yang
menjadi saksi perjuangan diplomasi para tokoh seperti Bung karno, Bung Hatta, H
Agus Salim, dan sejumlah tokoh lainnya.
Mobil Ford BN 10
Tempat wisata yang juga layak
dikunjungi adalah wisma Menumbing dan wisma Ranggam. Wisma Menumbing menjadi saksi
sejarah, karena Bung Hatta sempat dikerangkeng di wisma yang berada di Bukit
Menumbing, sekitar 10 kilometer dari kota Muntok. Sayangnya, kini wisma itu
sudah di sulap menjadi hotel dan restoran.
Meski begitu, kita masih dapat
melihat jejak-jejak sejarah yang sempat ditinggalkan para tokoh itu. Di sana,
ada surat-surat yang pernah ditulis Bung Hatta dan Bung Karno. Selain itu, ada
pula mobil Ford bernomor BN 10 yang pernah digunakan para tokoh itu saat
diasingkan di Pulau Bangka. Sedangkan, wisma Ranggam adalah saksi sejarah
tempat diasingkanya Bung Karno.
Di tempat inilah, selama enam
bulan para proklamator dan pendiri bangsa yang lain melakukan perjuangan
melalui jalur diplomasi. Meski diasingkan, namun semangat untuk memperjuangkan
kemerdekaan tak pernah henti disuarakan Bung Karno dan Bung Hatta di tempat
ini.
Menelusuri jejak sejarah di
Pulau Bangka memang sungguh tak terlupakan. Semua tinggalan itu mengigatkan
kita agar tak melupakan sejarah masa lalu. Sebab, itulah identitas kita
sebenarnya. Bangsa yang tak belajar dari sejarah sendiri akan terpaksa
mengulanginya.
Hari jadi kota Muntok 7 September ,,,,,,, sekarang 2011 memperingati
hari jadi yang ke 277
KOTA Mentok di Kabupaten
Bangka Barat adalah kota tua yang berdiri sejak berabad silam. Penjajah
Belanda-lah yang membangun daerah itu, sekaligus menjadikannya sebagai kota
pelabuhan.
MELALUI Pelabuhan Muntok di
Mentok, hasil alam terutama lada putih Bangka yang begitu terkenal diangkut
kapal-kapal Belanda menuju ke daratan Eropa. Melalui Pelabuhan Muntok pula
timah yang digali dari bumi Bangka dikirim ke negara penjajah.
Bekas kejayaan
Mentok-sekaligus kebesaran penjajah Belanda-sampai kini masih jelas terlihat di
kota yang kini ditetapkan menjadi ibu kota Kabupaten Bangka Barat tersebut.
Ratusan gedung tua dengan mudah ditemui di seantero kota pantai dan perbukitan
tersebut.
Dua di antara ratusan gedung
tua yang masih kokoh berdiri bahkan memiliki nilai sejarah yang amat tinggi
bagi negara ini. Dua gedung tua itu adalah Pesanggrahan Menumbing dan Wisma
Ranggam, gedung tersebut pernah dijadikan tempat tinggal pendiri negara ini.
Bung Karno bersama Bung Hatta
dan sejumlah pemimpin republik pernah menempati dua bangunan bersejarah itu
saat dibuang Belanda pada Februari 1949. Bung Hatta saat dibuang menempati
Pesanggrahan Menumbing yang terletak di tengah hutan perawan di atas Bukit
Menumbing.
Di dua gedung yang lokasinya
berjarak sekitar 10 kilometer itulah pemimpin lain seperti H Agus Salim dan Mr
Mohammad Roem dibuang bersama Presiden dan Wakil Presiden RI pertama tersebut.
Di Mentok, wisatawan dapat
pula menikmati kemegahan bangunan tua yang masih kokoh, mercu suar Tanjung
Kelian yang dibangun tahun 1862. Dari puncak bangunan itu, pengunjung bisa
menyaksikan seantero Mentok dan sekitarnya.
Namun, sayang, Mentok pun
seperti kota tua yang terlupakan. Kota kecamatan itu tetap belum menjadi daerah
tujuan wisata, baik bagi wisatawan luar daerah maupun mancanegara. Mentok baru
dinikmati oleh sebagian kecil warga setempat dan daerah lain di Pulau Bangka.
Wisatawan lokal itu umumnya
juga hanya menikmati Pantai Tanjung Kelian dan mercu suarnya, serta Bukit
Menumbing. Karena belum dikelola menjadi daerah tujuan wisata, menyebabkan
Mentok tidak bisa berkembang sebagaimana mestinya.
Untuk Sejumlah kendala
menghadang perkembangan Mentok. Salah satu hambatan utama adalah sulitnya
transportasi di daerah itu. Agar bisa ke Bukit Menumbing, misalnya, alat
transportasi yang bisa digunakan hanya dengan mobil atau sepeda motor sewaan,
namun biayanya relatif mahal.
Para tukang ojek sepeda motor,
misalnya, memasang tarif Rp 50.000-Rp 75.000 sekali jalan. Sementara mobil
sewaan memasang tarif Rp 250.000. Mahalnya biaya disebabkan medan yang berat
harus dilalui jika hendak ke Menumbing.
Jalan menanjak yang lebarnya
hanya dua meter menjadi alasan mahalnya tarif. Belum lagi perjalanan menuju
Menumbing yang harus melalui hutan perawan sejauh lima kilometer. “Saya tidak
berani mengantar ke sana,” ujar Sarif, salah seorang tukang ojek sepeda motor
ketika diajak ke Menumbing.
Di perbukitan dengan
ketinggian sekitar 800 meter dari permukaan laut tersebut pengunjung bisa
melihat-lihat kamar tempat Bung Karno dan Bung Hatta serta salah satu mobil
yang mereka pakai saat diasingkan Belanda di daerah itu.
Pesanggrahan tempat pembuangan
Bung Karno dan Bung Hatta itu sejak beberapa tahun lalu telah diubah menjadi
hotel dengan nama Jati Menumbing. Dari atas perbukitan ini, Kota Mentok,
Pelabuhan Muntok, dan Selat Bangka terlihat dengan jelas.
Di Mentok juga terdapat Wisma
Ranggam yang saat ini tengah dipugar. Gedung tua itu juga pernah menjadi tempat
tinggal Bung Karno saat berada dalam pengasingan di Mentok.
Keindahan Mentok tidak hanya
itu. Berjalan-jalan di dalam kota kecil itu tidak ubahnya berjalan-jalan di
kota tua. Di mana-mana terdapat gedung tua, baik yang masih terawat karena
dihuni maupun yang sudah rusak berat karena dibiarkan telantar.
Itu semua bisa menjadi daya
tarik bagi pengunjung yang datang. Warga Sumatera, misalnya, bisa datang ke
Mentok melalui Pelabuhan Muntok. Dari Pelabuhan Boom Baru di tepi Sungai Musi
di Kota Palembang, Mentok dapat dicapai dengan kapal cepat sekitar 2,5- 3 jam.
Belum bisa diwujudkannya
Mentok sebagai daerah tujuan wisata, diakui Kepala Seksi Pemerintahan Kecamatan
Mentok Fauzi. Menurut dia, hal itu terjadi terutama karena selama ini perhatian
pemerintah daerah dan pemerintah pusat masih kurang.
Namun, setelah Kabupaten
Bangka dimekarkan dan salah satunya menjadi Kabupaten Bangka Barat, Fauzi yakin
Mentok akan tumbuh menjadi daerah tujuan wisata yang dapat diandalkan. “Mentok
ditetapkan menjadi ibu kota Kabupaten Bangka. Mudah-mudahan dengan menjadi ibu
kota kabupaten, dalam waktu lima tahun ke depan Mentok akan jauh lebih maju,”
katanya.
Dengan menjadi ibu kota
kabupaten, ungkap Fauzi, pembangunan Mentok tentu akan lebih diperhatikan.
Pembangunan di kecamatan yang berpenduduk sekitar 40.000 jiwa itu akan
menyentuh pula sektor pariwisata.
WISATA Pulau Bangka memang
tidak hanya melulu mengandalkan pantainya yang cantik-cantik. Sejumlah obyek
lain di pulau itu bisa diandalkan menjadi magnet penarik wisatawan.
Sebut saja misalnya beberapa
tempat-tempat pemandian air panas di beberapa kabupaten. Salah satunya adalah
tempat wisata pemandian air panas Pemali di Sungai Liat, Kabupaten Bangka.
Sama seperti beberapa pemandian
ari panas lain di Bangka, sumber mata air panas di Pemali juga berasal dari
dalam perut bumi. Air panas yang konon bisa menyembuhkan aneka macam penyakit
kulit itu keluar memancar dari perut bumi.
Namun, sayang, saat ini Pemali
ditutup sementara karena di lokasi itu tengah dibangun rumah makan dan gedung
lainnya. Hanya warga sekitar lokasi pemandian itu yang masih bisa mandi-mandi
atau sekadar merendam kakinya di kolam air panas. Satu lokasi pemandian air
panas lainnya ada di Dendang, Kecamatan Kelapa. Namun, lokasi ini belum
dikelola secara baik.
Selain Pantai Pasir Padi,
masih banyak pantai lain yang seharusnya bisa mengundang wisatawan. Sebut saja
misalnya Pantai Matras, Pantai Parai/Tenggiri, Pantai Batu Bedaun, Pantai
Tanjung Pesona, Pantai Teluk Uber, Pantai Rebo, Pantai Air Anyer, Pantai
Remodong, Pantai Tanjung Kelian, Pantai Tanjung Ular, Pantai Pasir Kuning, dan
Pantai Penyak.
Bagi penggemar lokasi wisata
bukan pantai, Bangka juga memiliki tak sedikit tempat wisata. Bagi mereka yang
suka wisata alam, di Sungailiat, Kabupaten Bangka, terdapat hutan wisata. Hutan
ini terletak di jantung Sungailiat. Lokasinya di depan Masjid Agung. Tempat ini
sering dipakai berkemah oleh anak-anak muda atau pelajar dan Pramuka.
Pulau Bangka yang sekitar 40
persen penduduknya warga keturunan Cina juga banyak memiliki gedung-gedung tua
yang indah. Bahkan, kampung Cina dengan ciri khasnya bisa ditemui di sejumlah
lokasi. Di beberapa kampung Cina, keanekaragaman adat, seni, dan budayanya bisa
menjadi pemandangan tersendiri.
Beberapa kampung Cina yang
terdapat di Pulau Bangka antara lain di Pari Tiga Jebus, Kuto Panji Belinyu,
Kampung Bintang, Pangkal Pinang, dan Desa Mengkuban Manggar.
Desa wisata, tetapi dalam
nuansa lain bisa pula ditemukan di Bangka, yakni Desa Wisata Bali. Desa ini
adalah Trans VI Batu Betumpang yang merupakan desa percontohan, dengan penduduk
berasal dari Bali. Bersihnya perkampungan, sifat gotong royong, balai banjar,
dan pura tempat sembahyang umat Hindu Bali menjadi ciri khasnya.
Bangka seolah-olah diciptakan
Tuhan menjadi tempat tujuan wisata. Lokasi wisata lain yang dapat dinikmati
pengunjung antara lain air terjun Sadap di Kecamatan Koba, Kabupaten Bangka
Tengah. Bahkan, tersedia wisata agro di pulau ini. Kebun lada putih yang banyak
tersebar di pulau itu, ditambah perkebunan karet dan kelapa sawit, bisa menjadi
pemandangan yang mengasyikkan bagi pengunjung.
Bagi penggemar buah nanas,
hamparan perkebunan nanas yang luas bisa disaksikan di Toboali, di bagian
selatan Pulau Bangka. Di perkebunan nanas ini pengunjung bisa langsung
menikmati nanas segar dan manis langsung dari kebun.
Membicarakan potensi wisata
Pulau Bangka memang seakan tiada habisnya. Selain di Mentok, tempat wisata
sejarah terdapat pula di Kota Pangkal Pinang. Salah satu bangunan tua adalah
Museum Timah yang terletak di jantung kota. Gedung ini menyimpan sejarah
penambangan timah di Bangka.
Bangka masih pula menyimpan
potensi wisata lain, misalnya kolam ikan Pha Kak Liang dengan bangunan khas
Cina di Belinyu, klenteng di daerah Jebus juga menyimpan keindahan arsitektur
khas Cina.
Begitu banyak dan beragamnya
potensi wisata Bangka, membuat pulau ini pantas disebut tidak kalah dengan
Pulau Dewata. Namun, pengelolaan yang tidak maksimal menyebabkan potensi ini
seperti terabaikan. Jangankan orang Jakarta dan kota besar lainnya, warga
Palembang dan Sumatera Selatan yang bertetangga pun seperti enggan berkunjung
ke Bangka.


Mohon info lengkap harga Lada Putih Bangka ke saya gan
BalasHapus