Selasa, 20 Desember 2011

Kota Muntok dan Kepulauan Bangka Belitung


Asal muasal nama kota muntok
Sampai saat ini kita semua mungkin belum mengetahui asal usul nama kota muntok. Namun menurut penjelasan dari sejarah nama muntok ada setelah ditemukan dan dieksploitasinya bijih timah. Tidak diketahui dengan pasti mengapa kota tua tersebut dinamakan Muntok. Sebuah sumber di Eropa menyebutkan bahwa Muntok dinamai menurut nama Gubernur Jenderal Inggris yang berkedudukan di Tumasik (sekarang Singapura), yaitu Lord Minto. Ada juga yang mengatakan mana muntok berasal saat Pangeran Jayawikrama naik takhta sebagai Sultan Mahmud Badaruddin I (SMB I), keluarga Kerajaan Palembang kurang berkenan dengan kehadiran istri pertama Sultan bernama Zamnah yang berasal dari Johor. Istrinya kemudian meminta untuk dibolehkan berdomisili di Bangka. Dari Tanjung Sungsang, dataran di muara Sungai Musi di Pulau Sumatera, itulah istrinya melihat kawasan di seberang, Pulau Bangka, yang dianggapnya cocok untuk bermukim.
"Amun tok, kalau itu tempatnya sesuailah. Kurang lebih begitulah kata sang putri,". Kata-kata itu kemudian dijadikan nama kota itu. Kira-kira, begitulah kira asal-usul nama Muntok yang kemudian dilafalkan masyarakat setempat menjadi Mentok.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgGkPHMHbWtLfTuRw_eWiL6SgSjIjHxpjA8eOSVR90t_xEDm8JtW4teGXJB28iZm7KJNOJRPJ92ZTR_rHXuEqmPqW1mHiazhdXkl0Ahu1R9rE8C_tKnRRg-XWTdnF-S8LqBkVD1AxW81i0/s320/ndex.jpeg
Muntok adalah kota tua yang didirikan oleh Abang Pahang, mertua Sultan ''Palembang Darusssalam'' Mahmud Badaruddin I (1720-1755) pada tahun 1722 dan menjadi ibu kota Karesidenan [[Bangka Belitung]], sebelum dipindahkan oleh Residen J. Englenberg ke [[Pangkal Pinang]] pada tahun 1907.[[Berkas:COLLECTIE TROPENMUSEUM Sociëteit Concordia in Muntok TMnr 60048672.jpg|thumb|300px|''Sociëteit Concordia'' di Mentok (tahun 1914)]
Kabupaten Bangka Barat
Kabupaten Bangka Barat merupakan salah satu bagian dari Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sendiri terbentuk berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 2000 tentang pembentukan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, dan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2003 tentang pembentukan Kabupaten Bangka Selatan, Kabupaten Bangka Tengah, Kabupaten Bangka Barat, dan Kabupaten Belitung Timur. Batas wilayah Kabupaten Bangka Barat berdasarkan Undang-Undang RI No. 5  Tahun 2003 adalah sebagai berikut:
  • Sebelah utara berbatasan dengan laut  Natuna
  • Sebelah timur berbatasan dengan Teluk Kelabat Kecamatan Bakam, Kecamatan Puding Besar, Kecamatan Mendo Barat dan Kabupaten Bangka
  • wilayah Kabupaten Bangka
  • Sebelah selatan berbatasan dengan Selat Bangka
  • Sebelah barat berbatasan dengan Selat Bangka
Berdasarkan pembacaan pada Peta Rupa Bumi BAKOSURTANAL skala 1 : 250.000, wilayah Kabupaten Bangka Barat secara geografis terletak di antara : 105 o 00’ – 106o 00’ BT dan 01o 00’ – 02o 10’ LS. Luas wilayah daratan lebih kurang 3.065,79 Km² dengan wilayah administratif yang terbagi 6 (enam) kecamatan, 4 (empat) kelurahan dan 60 (enam puluh) desa. Secara topografi wilayah Kabupaten Bangka Barat terdiri dari rawa-rawa dengan hutan bakau dengan wilayah pantai landai berpasir, daratan rendah dan bukit-bukit dengan hutan lebat. Kabupaten Bangka Barat memiliki iklim Tropis Tipe A dengan curah hujan rata-rata 11,8  hingga 370,3 mm/bulan dan suhu udara rata-rata antara 25,7° C hingga 29,0° C.
Suku dan etnis penduduk Kabupaten Bangka Barat terdiri dari suku melayu, keturunan Tionghoa, Jawa, Arab Melayu, Palembang, Bugis dan Batak. Total Jumlah Penduduk s.d. Nopember 2011 adalah 187.453 Jiwa, dan persentase agama yang dipeluk oleh  penduduk adalah Agama Islam (90.61 %), Budha (5.56 %), Kong Fu Cu (1,67 %),  Kristen (1.56 %), Katholik (0,56 %) dan Hindu (0,03 %).
Mata pencaharian penduduk tersebar di berbagai kegiatan pertambangan, perkebunan, pertanian, perikanan, kelautan, perdagangan barang dan jasa, serta pegawai negeri, BUMN dan swasta. PT. Timah, Tbk., salah satu perusahaan BUMN yang ada di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang banyak menampung tenaga kerja. Dan di Kota Muntok adalah pusat peleburan biji timah pertama dan terbesar yang ada di Indones

Kecamatan

  1. Jebus = 730,11 km² = 36.975 jiwa
  2. Kelapa = 601,17 km² = 25.186 jiwa
  3. Muntok = 469 km² = 36.294 jiwa
  4. Simpang Teritip = 626,47 km² = 23.715 jiwa
  5. Tempilang = 398,86 km² = 20.404 jiwa
  6. Parit Tiga
Dasar hukum pembentukan Dasar hukum UU RI Nomor 5 Tahun 2003 Pemerintahan  - DAU Rp. 265.457.548.000,-(2011)[1] Luas 2.820,61 km2 [2] Populasi  - Total 142.574 jiwa (2007)[3]  - Kepadatan 50,55 jiwa/km2 Demografi
Hari IBU
SELAMAT HARI IBU "

 Sekuntum melati, lambang kasih nan suci.
  Ibu Indonesia, pembina tunas bangsa.
  Berkorban sadar cita, tercapai dengan giat bekerja.
  Merdeka laksanakan bhakti pada Ibu Pertiwi

Itulah penggalan Hymne Hari Ibu, pasti sangat familiar bagi para pegawai negeri yang mengikuti Upacara Hari Ibu. Alasannya karena lagu itu selalu dinyanyikan di setiap upacara peringatan hari Ibu. Sekuntum melati, lambang kasih nan suci. Ehm sangat indah bukan, melati yang harum mewangi sepanjang hari sebagai lambang kasih nan suci. Ya, lambang Hari Ibu adalah setangkai bunga melati dengan kuntumnya. Secara pasti tidak tahu sejarah kenapa melati dijadikan lambang Hari Ibu.
Lambang tersebut digunakan untuk menggambarkan 3 hal: Kasih sayang kodrati antara ibu dan anak; Kekuatan, kesucian antara ibu dan pengorbanan anak; Kesadaran wanita untuk menggalang kesatuan dan persatuan, keikhlasan bakti dalam pembangunan bangsa dan negara. Padahal peringatan hari Ibu Indonesia sebenarnya dimaksudkan untuk senantiasa mengingatkan seluruh rakyat Indonesia terutama generasi muda, bahwa betapa besar jasa para pejuang perempuan mengangkat harkat dan martabat kaum perempuan untuk memperjuangkan kesatuan, persatuan dan kemerdekaan Indonesia. Hakekat Hari Ibu di Indonesia adalah nasionalisme kaum hawa Indonesia. Benih2nya saat persiapan kemerdekaan dan masa perang kemerdekaan.
Berbeda dengan sejarah ditetapkannya Hari Ibu, sekarang ini Hari Ibu oleh bangsa Indonesia diperingati tidak hanya untuk menghargai jasa-jasa pejuang perempuan, tetapi juga jasa perempuan secara menyeluruh, baik sebagai ibu dan istri maupun sebagai warga negara, warga masyarakat dan sebagai abdi Tuhan Yang Maha Esa, serta sebagai pejuang dalam mengisi kemerdekaan dengan pembangunan nasional. Itulah maksud dari embel-embel 'Indonesia' di judul postingan ini. Ada Hari Ibu dan Hari Ibu Indonesia hihi. Yah perayaan yang umum sekarang ini lebih pada penghargaan kepada kaum Ibu yang melahirkan kita, secara personal. Terlihat jelas dari status teman-teman di facebook, tweet di twitter ataupun YM. Di Blackberry Messenger juga tak kalah, semua pada mengganti pic profile dengan foto bersama ibu/mamanya masing-masing.
“Selamat Hari Ibu…”, “Aku Sayang Ibu…” itu beberapa kalimat yang paling banyak muncul hari ini.
Setahun lalu, ditanggal yang sama, saya juga menulis post dengan judul "Setiap Hari adalah Hari Ibu", bukan untuk mengecilkan peringatan Hari Ibu ini tapi bagi saya setiap hari adalah hari spesial untuk ibu, terlebih saya yang tidak setiap waktu bisa ketemu sama ibu karena dipisahkan jarak :) Ingin tau bagaimana sebenarnya sejarah Hari Ibu di Indonesia?

Pimpinan perkumpulan kaum perempuan tergugah untuk mempersatukan diri dalam satu kesatuan wadah mandiri saat Sumpah Pemuda dan Lagu Indonesia Raya dilantunkan pada tanggal 28 Oktober 1928 dalam Kongres Pemuda Indonesia. Pada saat itu sebagian besar perkumpulan perempuan masih merupakan bagian dari organisasi pemuda pejuang pergerakan bangsa. Selanjutnya, atas prakarsa para perempuan pejuang pergerakan kemerdekaan pada tanggal 22-25 Desember 1928 diselenggarakan Kongres Perempuan Indonesia yang pertama kali di Yogyakarta. Salah satu keputusannya adalah di bentuknya satu organisasi bernama Perikatan Perkoempoelan Perempoean Indonesia (PPPI). Melalui PPPI terjalin kesatuan semangat juang kaum perempuan untuk secara bersama-sama kaum laki-laki berjuang meningkatkan harkat dan martabat bangsa Indonesia menjadi bangsa yang merdeka, dan berjuang bersama-sama kaum perempuan untuk meningkatkan harkat dan martabat perempuan Indonesia menjadi perempuan yang maju.
Pada tahun 1929 PPPI berganti nama menjadi Perikatan Perkoempoelan Istri Indonesia (PPII). Pada tahun 1935 diadakan Kongres Perempuan Indonesia II di Jakarta. Kongres tersebut disamping berhasil membentuk Badan Kongres Perempuan Indonesia, juga menetapkan fungsi utama Perempuan Indonesia sebagai Ibu Bangsa, yang berkewajiban menumbuhkan dan mendidik generasi baru yang lebih menyadari dan lebih tebal rasa kebangsaannya. Pada tahun 1938 Kongres Perempuan Indonesia III di Bandung menyatakan bahwa tanggal 22 Desember sebagai Hari Ibu.
Tahun 1946 Badan ini menjadi Kongres Wanita Indonesia di singkat KOWANI, yang sampai saat ini terus berkiprah sesuai aspirasi dan tuntutan zaman. Peristiwa besar yang terjadi pada tanggal 22 Desember tersebut kemudian dijadikan tonggak sejarah bagi Kesatuan Pergerakan Perempuan Indonesia. Selanjutnya, dikukuhkan oleh Pemerintah dengan Keputusan Presiden Nomor 316 Tahun 1959 tentang Hari-hari Nasional yang Bukan Hari Libur tertanggal 16 Desember 1959, yang menetapkan bahwa Hari Ibu tanggal 22 Desember merupakan hari nasional dan bukan hari libur.

Pada kongres di Bandung tahun 1952 diusulkan dibuat sebuah monumen. Tahun berikutnya dilakukan peletakan batu pertama pembangunan Balai Srikandi oleh Ibu Sukanto (Ketua Kongres Pertama). Kemudian diresmikan oleh Menteri Maria Ulfah (Menteri Perempuan Pertama yang diangkat tahun 1950) tahun 1956. Akhirnya pada tahun 1983, Presiden Soeharto meresmikan keseluruhan kompleks monumen itu menjadi Mandala Bhakti Wanitatama di Jl. Laksda Adisucipto, Jogjakarta.
Sejarah tersebut juga dimuat di situs kantor www.setneg.go.id

Tentang Bangka Belitung
Provinsi Kepulauan Bangka Belitung adalah sebuah provinsi di Indonesia yang terdiri dari dua pulau utama yaitu Pulau Bangka dan Pulau Belitung serta pulau-pulau kecil seperti P. Lepar, P. Pongok, P. Mendanau dan P. Selat Nasik, total pulau yang telah bernama berjumlah 470 buah dan yang berpenghuni hanya 50 pulau. Bangka Belitung terletak di bagian timur Pulau Sumatera, dekat dengan Provinsi Sumatera Selatan. Bangka Belitung dikenal sebagai daerah penghasil timah, memiliki pantai yang indah dan kerukunan antar etnis. Ibu kota provinsi ini ialah Pangkalpinang. Pemerintahan provinsi ini disahkan pada tanggal 9 Februari 2001. Setelah dilantiknya Pj. Gubernur yakni H. Amur Muchasim, SH (mantan Sekjen Depdagri) yang menandai dimulainya aktivitas roda pemerintahan provinsi.
Selat Bangka memisahkan Pulau Sumatera dan Pulau Bangka, sedangkan Selat Gaspar memisahkan Pulau Bangka dan Pulau Belitung. Di bagian utara provinsi ini terdapat Laut Cina Selatan, bagian selatan adalah Laut Jawa dan Pulau Kalimantan di bagian timur yang dipisahkan dari Pulau Belitung oleh Selat Karimata.
Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sebelumnya adalah bagian dari Sumatera Selatan, namun menjadi provinsi sendiri bersama Banten dan Gorontalo pada tahun 2000. Provinsi Kepulauan Bangka Belitung didirikan berdasarkan Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2000 Tentang Pembentukan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung tanggal 21 November 2000 yang terdiri dari Kabupaten Bangka, Kabupaten Belitung dan Kota Pangkalpinang. Pada tahun 2003 berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2003 tanggal 23 Januari 2003 dilakukan pemekaran wilayah dengan penambahan 4 kabupaten yaitu Bangka Barat, Bangka Tengah, Bangka Selatan dan Belitung Timur. Provinsi Kepulauan Bangka Belitung merupakan pemekaran wilayah dari Provinsi Sumatra Selatan
Wilayah Propinsi Kepulauan Bangka Belitung, terutama Pulau Bangka berganti-ganti menjadi daerah taklukan Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit. Setelah kapitulasi dengan Belanda, Kepulauan Bangka Belitung menjadi jajahan Inggris sebagai "Duke of Island". 20 Mei 1812 kekuasaan Inggris berakhir setelah konvensi London 13 Agustus 1824, terjadi peralihan kekuasaan daerah jajahan Kepulauan Bangka Belitung antara MH. Court (Inggris) dengan K. Hcyes (Belanda) di Muntok pada 10 Desember 1816. Kekuasaan Belanda mendapat perlawanan Depati Barin dan putranya Depati Amir yang di kenal sebagai perang Depati Amir (1849-1851). Kekalahan perang Depati Amir menyebabkan Depati Amir diasingkan ke Desa Air Mata Kupang NTT. Atas dasar stbl. 565, tanggal 2 Desember 1933 pada tanggal 11 Maret 1933 di bentuk Resindetil Bangka Belitung Onderhoregenheden yang dipimpin seorang residen Bangka Belitung dengan 6 Onderafdehify yang di pimpin oleh Ast. Residen. Di Pulau Bangka terdapat 5 Onderafdehify yang akhirnya menjadi 5 Karesidenan sedang di Pulau Belitung terdapat 1 Karesidenan. Di zaman Jepang, Karesidenan Bangka Belitung di perintah oleh pemerintahan Militer Jepang yang disebut Bangka Beliton Ginseibu. Setelah Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, oleh Belanda di bentuk Dewan Bangka Sementara pada 10 Desember 1946 (stbl.1946 No.38) yang selanjutnya resmi menjadi Dewan Bangka yang diketuai oleh Musarif Datuk Bandaharo Leo yang dilantik Belanda pada 11 November 1947. Dewan Bangka merupakan Lembaga Pemerintahan Otonomi Tinggi. Pada 23 Januari 1948 (stb1.1948 No.123), Dewan Bangka, Dewan Belitung dan Dewan Riau bergabung dalam Federasi Bangka Belitung dan Riau (FABERI) yang merupakan suatu bagian dalam Negara Republik Indonesia Serikat (RIS). Berdasarkan Keputusan Presiden RIS Nomor 141 Tahun 1950 kembali bersatu dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) hingga berlaku undang-undang Nomor 22 Tahun 1948. Pada tanggal 22 April 1950 oleh Pemerintah diserahkan wilayah Bangka Belitung kepada Gubernur Sumatera Selatan Dr. Mohd. lsa yang disaksikan oleh Perdana Menteri Dr. Hakim dan Dewan Bangka Belitung dibubarkan. Sebagai Residen Bangka Belitung ditunjuk R. Soemardja yang berkedudukan di Pangkalpinang.Berdasarkan UUDS 1950 dan UU Nomor 22 Tahun 1948 dan UU Darurat Nomor 4 tanggal 16 November 1956 Karesidenan Bangka Belitung berada di Sumatera Selatan yaitu Kabupaten Bangka dan dibentuk juga kota kecil Pangkalpinang. Berdasarkan UU Nomor 1 Tahun 1957 Pangkalpinang menjadi Kota Praja. Pada tanggal 13 Mei 1971 Presiden Soeharto meresmikan Sungai Liat sebagai ibukota Kabupaten Bangka. Berdasarkan UU Nomor 27 Tahun 2000 wilayah Kota Pangkalpinang, Kabupaten Bangka dan Kabupaten Belitung menjadi Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Selanjutnya sejak tanggal 27 Januari 2003 Provinsi Kepualauan Bangka Belitung mengalami pemekaran wilayah dengan menambah 4 Kabupaten baru yaitu Kabupaten Bangka Barat, Bangka Tengah, Belitung Timur dan Bangka Selatan
Musyawarah Pimpinan Daerah Provinsi
  • Gubernur: Ir. H. Eko Maulana Ali, SAP, MSc
  • Wakil Gubernur: H.Syamsuddin Basari, S.Sos
  • Ketua DPRD: Drs.H.Munir Saleh, MM
  • Kepala Polda: Brigjen Pol Drs. M. Rum Murkal
  • Kepala Kejaksaan Tinggi: Ismail Fachruddin, SH, MH
  • Ketua Pengadilan Tinggi: Ndjilei Kaban, SH
  • Ketua Pengadilan Agama: Drs. H. Djafar Abdul Muchith, SH, MHI
  • Komandan Kodim 0413 Bangka: Letkol. Art. Harjito
  • Komandan Kodim 0414 Belitung: Letkol. CZi. M. Jangkung Widyanto
  • Komandan Lanal Belinyu: Letkol Laut (P) Gregorius Agung, WD
  • Komandan Lanud Tanjungpandan: Letkol. Udara (Pnb) Heddezol
  • Rektor Universitas Bangka Belitung (UBB): Prof. Dr.Bustami Rahman, M.S
  • Ketua STAIN Syekh Abdurrahman Sidik: Drs. Zulkifli, MA
  • Sekretaris Daerah: Ir. H. Imam Mardi Nugroho, MT
Posisi geografis
Posisi geografis provinsi ini adalah 1º50' - 3º10' LS dan 105º - 108º BT.
Tipologi
Keadaan alam Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sebagian besar merupakan dataran rendah, lembah dan sebagian kecil pegunungan dan perbukitan. Ketinggian dataran rendah rata-rata sekitar 50 meter di atas permukaan laut dan ketinggian daerah pegunungan antara lain untuk Gunung Maras mencapai 699 meter di Kecamatan Belinyu (P. Bangka), Gunung Tajam Kaki ketinggiannya kurang lebih 500 meter diatas permukaan laut di Pulau Belitung. Sedangkan untuk daerah perbukitan seperti Bukit Menumbing ketinggiannya mencapai kurang lebih 445 meter di Kecamatan Mentok dan Bukit Mangkol dengan ketinggian sekitar 395 meter di atas permukaan laut di Kecamatan Pangkalan Baru.
Keadaan Tanah
Keadaan tanah Kepulauan Bangka Belitung secara umum mempunyai PH atau reaksi tanah yang asam rata-rata dibawah 5, akan tetapi memiliki kandungan aluminium yang sangat tinggi. Di dalamnya mengandung banyak mineral biji timah dan bahan galian berupa pasir, pasir kuarsa, batu granit, kaolin, tanah liat dan lain-lain. Keadaan tanah terdiri dari:
·         Podsolik dan Litosol Warnanya coklat kekuning-kuningan berasal dari batu plutonik masam yang terdapat di daerah perbukitan dan pegunungan, kuarsa, batu granit, kaolin, tanah liat dan lain-lain.
·         Asosiasi Podsolik. Warnanya coklat kekuning-kuningan dengan bahan induk kompleks batu pasir kwarsit dan batuan plutonik masam.
·         Asosiasi Aluvial, Hedromotif dan Clay Humus serta regosol: Berwarna kelabu muda, berasal dari endapan pasir dan tanah liat.
Hidrologi
Daerah Kepulauan Bangka Belitung dihubungkan oleh perairan laut dan pulau-pulau kecil. Secara keseluruhan daratan dan perairan Bangka Belitung merupakan satu kesatuan dari bagian dataran Sunda, sehingga perairannya merupakan bagian Dangkalan Sunda (Sunda Shelf) dengan kedalaman laut tidak lebih dari 30 meter.
Sebagai daerah perairan, Kepulauan Bangka Belitung mempunyai dua jenis perairan, yaitu perairan terbuka dan perairan semi tertutup. Perairan terbuka yang terdapat di sekitar pulau Bangka terletak di sebelah utara, timur dan selatan pulau Bangka. Sedangkan perairan semi tertutup terdapat di selat Bangka dan teluk Kelabat di Bangka Utara. Sementara itu perairan di pulau Belitung umumnya bersifat perairan terbuka.
Di samping sebagai daerah perairan laut, daerah Kepulauan Bangka Belitung juga mempunyai banyak sungai seperti : sungai Baturusa, sungai Buluh, sungai Kotawaringin, sungai Kampa, sungai Layang, sungai Manise dan sungai Kurau.
Flora
Di Kepulauan Bangka Belitung tumbuh bermacam-macam jenis kayu berkualitas yang diperdagangkan ke luar daerah seperti: Kayu Meranti, Ramin, Mambalong, Mandaru, Bulin dan Kerengas. Tanaman hutan lainnya adalah: Kapuk, Jelutung, Pulai, Gelam, Meranti rawa, Mentagor, Mahang, Bakau dan lain-lain. Hasil hutan lainnya merupakan hasil ikutan terutama madu alam dan rotan. Madu Kepulauan Bangka Belitung terkenal dengan madu pahit.
Fauna
Fauna di Kepulauan Bangka Belitung lebih memiliki kesamaan dengan fauna di Kepulauan Riau dan semenanjung Malaysia daripada dengan daerah Sumatera. Beberapa jenis hewan yang dapat ditemui di Kepulauan Bangka Belitung antara lain: Rusa, Beruk, Monyet, Lutung, Babi Hutan, Tringgiling, Kancil, Musang , Elang, Ayam Hutan, Pelanduk, berjenis-jenis Ular dan Biawak.
Cuaca dan Iklim
Tahun 2007 kelembaban udara di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung berkisar antara 77,4 % sampai dengan 87,3 % dengan rata-rata perbulan mencapai 83,1 %, dengan curah hujan antara 58,3 mm sampai dengan 476,3 mm dan tekanan udara selama tahun 2007 sekitar 1.010,1 MBS. Rata-rata suhu udara selama tahun 2007 di provinsi ini mencapai 26,7 oC dengan rata-rata suhu udara maksimum 29,9 oC dan rata-rata suhu udara minimum 24,9 oC. Suhu udara maksimum tertinggi terjadi pada Bulan Oktober dengan suhu udara 31,7 oC, sedangkan untuk suhu udara minimum terendah terjadi pada Bulan Februari dan Maret dengan suhu udara sebesar 23,2 oC.
Kepulauan Bangka Belitung memiliki Iklim tropis yang dipengaruhi angin musim yang mengalami bulan basah selama tujuh bulan sepanjang tahun dan bulan kering selama lima bulan terus menerus. Tahun 2007 bulan kering terjadi pada Bulan Agustus sampai dengan Oktober dengan hari hujan 11-15 hari per bulan. Untuk bulan basah hari hujan 16-27 hari per bulan, terjadi pada Bulan Januari sampai dengan Bulan Juli dan Bulan November sampai Bulan Desember.
Demografi
Jumlah penduduk Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada tahun 2007 sebesar 1.106.657 jiwa menunjukkan peningkatan 23.08 persen dari tahun 2000, dengan jumlah penduduk sebesar 899.095 jiwa (hasil Sensus Penduduk 2000). Penduduk Bangka Belitung disebut orang Melayu Bangka-Belitung[4]
Jumlah penduduk laki-laki pada tahun 2007 sebanyak 584.178 jiwa dan penduduk perempuan sebanyak 522.479 jiwa. Rasio jenis kelamin tahun yang sama sebesar 112, artinya pada tahun 2007 untuk setiap 212 penduduk di Kepulauan Bangka Belitung terdapat 100 penduduk perempuan dan 112 penduduk laki-laki. Laju pertumbuhan penduduk Provinsi Kepulauan Bangka Belitung tahun 1980 - 1990 sebesar 2,29 persen per tahun dan turun menjadi 0,93 persen per tahun untuk periode tahun 1990 - 2000. Adapun laju pertumbuhan penduduk ditinjau menurut kabupaten/kota untuk periode tahun 1990-2000, laju pertumbuhan tertinggi terdapat di Kabupaten Bangka 1,06 persen, diikuti Kota Pangkalpinang 1,03 persen dan Kabupaten Belitung 0,59 persen. Jumlah rumahtangga di Kepulauan Bangka Belitung tahun 2007 sebanyak 272.704 rumahtangga dan kabupaten yang memiliki jumlah rumahtangga terbesar adalah Kabupaten Bangka sebesar 65.200 rumahtangga dan yang memiliki jumlah rumahtangga terendah adalah Belitung Timur sebesar 23.168 rumahtangga.
Adapun tingkat kepadatan penduduk Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mencapai 67 orang per km2, apabila dilihat menurut kabupaten/kota, Kota Pangkalpinang memiliki tingkat kepadatan tertinggi yaitu sebesar 1.737 orang per km2 dan Kabupaten Belitung Timur memiliki tingkat kepadatan terendah yaitu 36 orang per km2.
Ketenagakerjaan
Jumlah penduduk Kepulauan Bangka Belitung usia 15 tahun ke atas atau yang termasuk Penduduk Usia Kerja (PUK) pada tahun 2007 sebanyak 766.428 jiwa atau 69,25 persen dari total penduduk. Sebesar 66,28 persen dari PUK termasuk dalam penduduk angkatan kerja (bekerja dan/atau mencari kerja) dan sisanya 33.72 persen adalah penduduk bukan angkatan kerja (sekolah, mengurus rumahtangga dan lainnya).
Tingkat partisipasi angkatan kerja Kepulauan Bangka Belitung tahun 2007 sebesar 66,28 persen artinya sebesar 66 persen penduduk usia kerja aktif secara ekonomi. Adapun tingkat pengangguran terbuka untuk Kepulauan Bangka Belitung tahun yang sama sebesar 6,49 persen, artinya dari 100 penduduk yang termasuk angkatan kerja, secara rata-rata 5-6 orang diantaranya pencari kerja. Penduduk usia kerja yang bekerja apabila dilihat dari sektor lapangan pekerjaan tampak bahwa sebesar 34,4 persen penduduk usia kerja yang bekerja terserap di sektor pertanian, 20,9 persen terserap sektor pertambangan dan sektor perdagangan menyerap 18,7 persen.
Perekonomian
Produk Domestik Regional Bruto
Pada tahun 2007, PDRB atas dasar harga berlaku di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dengan migas sebesar 17.895.017 juta rupiah, sedangkan PDRB tanpa migas sebesar 17.369.399 juta. Apabila dibandingkan dengan tahun sebelumnya menunjukkan peningkatan dimana pada tahun 2006 PDRB atas dasar harga berlaku dengan migas adalah 15.920.529 juta rupiah dan PDRB tanpa migas sebesar 15.299.647 juta rupiah. Demikian juga, PDRB atas dasar harga konstan 2000 baik dengan migas maupun tanpa migas pada tahun 2007 menunjukkan peningkatan.
Pertumbuhan Ekonomi
Laju pertumbuhan ekonomi Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada tahun 2007 semakin membaik dibandingkan tahun 2006. Berdasarkan penghitungan PDRB atas dasar harga konstan 2000, laju pertumbuhan ekonomi tahun 2007 dengan migas adalah sekitar 4,54 persen dan pertumbuhan ekonomi tanpa migas adalah sekitar 5,37 persen. Nilai PDRB atas dasar harga konstan 2000 pada tahun 2006 dengan migas adalah 9.053.906 juta rupiah, pada tahun 2007 meningkat menjadi 9.645.062 juta rupiah, sementara tanpa migasnya menjadi 9.257.539 juta rupiah.
Struktur Perekonomian
Perekonomian di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung tahun 2007 ditopang oleh sektor primer dan sektor sekunder. Sektor primer meliputi sektor pertanian dan sektor pertambangan dan penggalian. Sektor primer ini mempunyai kontribusi cukup besar masing-masing sebesar 18,67 persen dan 20,40 persen.
Sedangkan pada sektor sekunder yaitu sektor industri pengolahan memberikan kontribusi yang cukup besar pada PDRB Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yaitu sebesar 22,51 persen dan untuk sektor listrik, gas dan air bersih serta sektor bangunan masing-masing memberikan kontribusi sebesar 0,65 persen dan 5,87 persen. Untuk sektor tersier yaitu sektor perdagangan, hotel dan restoran, sektor angkutan dan komunikasi, sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan dan sektor jasa-jasa mempunyai kontribusi sebesar 34,81 persen.
Dilihat dari sisi penggunaan PDRB atas dasar harga berlaku digunakan untuk memenuhi konsumsi rumah tangga. Pada tahun 2007 besarnya pengeluaran konsumsi rumah tangga sebesar 9.015.057 juta rupiah atau sekitar 50,38 persen dari total PDRB. Selain itu kegiatan perdagangan luar negeri juga mempunyai kontribusi yang cukup besar, untuk ekspor senilai 8.741.217 juta rupiah atau 48,84 persen dan untuk impor senilai 5.284.414 juta rupiah atau 29.53 persen dari total PDRB.
Ekspor impor
Neraca perdagangan yang meliputi kegiatan ekspor dan impor Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada tahun 2007 terjadi peningkatan nilai surplus dibandingkan tahun sebelumnya. Nilai ekspor pada tahun 2007 mencapai 1.254,43 juta dollar AS, atau naik 17,38 persen dibanding tahun sebelumnya. Sementara itu nilai impor menurun dari 25,09 juta dollar AS pada tahun 2006 menjadi 21,58 juta dollar AS di tahun 2007 atau turun sebesar 16,27 persen. Besarnya surplus neraca perdagangan tahun 2007 sebesar 1.232,85 juta dollar AS. Dengan demikian nilai surplus tahun 2007 naik sebesar 18,13 persen .
Industri
Pada tahun 2007 Provinsi Kepulauan Bangka Belitung didominasi oleh kelompok industri kimia dan bahan bangunan secara kuantitas, yaitu sebanyak 1187 unit usaha yang tersebar di seluruh kabupaten/kota, terbanyak di kabupaten Bangka Tengah dengan 339 unit usaha. Penyerapan tenaga kerja di sektor industri mencapai 19.462 orang dimana 7.375 merupakan penyerapan tenaga kerja terbesar berada di kelompok industri logam mesin dan elektronika.
Industri kerajinan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung merupakan industri yang mengolah hasil agro industri, perikanan, perkebunan dan hasil laut. Industri kerajinan yang diusahakan penduduk adalah kerajinan tangan berupa industri pewter dari timah, gelang/cincin/tongkat dari akar bahar, anyaman kopiah/peci resam dan sebagainya. Sedangkan industri kerajinan yang berupa makanan/penganan berupa terasi, rusip, getas/kerupuk, siput gonggong dan lain-lain.
Perguruan Tinggi
Sejarah perguruan tinggi di Bangka Belitung diawali oleh Universitas Sriwijaya Cabang Bangka pada tahun 1970-an. Namun sesuai dengan peraturan yang tidak memperbolehkan perguruan tinggi negeri yang membuka cabang, maka pada awal tahun 1980-an Universitas Sriwijaya Cabang ditutup.
Kalangan pendidik di Pulau Bangka yang peduli akan pentingnya pendidikan tinggi kemudian memprakarsai hadirnya perguruan tinggi di Bangka dengan membentuk Yayasan Pendidikan Bangka (Yapertiba) yang kemudian pada tahun 1982 mendirikan STIH Pertiba dengan jurusan Ilmu Hukum dan STIE Pertiba dengan jurusan Manajemen yang berada di Kota Pangkalpinang.
Selanjutnya Universitas Terbuka hadir di Pulau Bangka pada tahun 1984. Yapertiba juga mendirikan STAI Bangka yang berada di Kota Sungailiat. PT. Timah Tbk. ikut berpartisipasi mengembangkan dunia pendidikan tinggi dengan mendirikan Politehnik Manufaktur Timah pada tahun 1994 yang terletak di Kota Sungailiat yang memiliki 3 jurusan. Pada tahun 1990-an Pemkot Pangkalpinang turut andil mendirikan Akademi Keperawatan guna mencetak tenaga kesehatan yang handal sesuai kebutuhan daerah yang berlokasi di RSUD Pangkalpinang. Yapertiba pada tahun 1999 mendirikan STIPER Bangka yang berlokasi di Kota Sungailiat pada tahun 1999, selanjutnya STIPER Bangka pada tahun 2006 melebur menjadi bagian dari Universitas Bangka Belitung. Pada tahun 1999 juga berdiri Akademi Akuntansi Bakti yang didirikan oleh Yayasan Pendidikan Bakti.
Di Pulau Belitung sejumlah pemerhati pendidikan pada tahun 1999 mendirikan Akademi Manajemen Belitung. STIE IBEK Babel turut hadir meramaikan dunia pendidikan tinggi di Bangka yang berdiri pada tahun 2000 berlokasi di Kota Pangkalpinang dengan jurusan Akuntansi dan Manajemen. Tahun 2001 AMIK Atma Luhur berdiri di Kota Pangkalpinang dengan kekhususan pada keahlian informatika, memiliki 2 jurusan yakni Manajemen Informatika dan Komputer Akuntansi. Di tahun yang sama STIKES Abdi Nusa juga hadir di Pangkalpinang dengan jurusan Kesehatan Masyarakat. Pada tahun 2003 Stisipol Pahlawan 12 dan STT Pahlawan 12 didirikan di Kota Sungailiat.
Departemene Agama pada tahun 2005 mendirikan STAIN Syekh Abdurrahman Sidik yang berlokasi di Kecamatan Mendo Barat.
Pada tahun 2006 berdirilah Universitas pertama di Bangka Belitung yakni Universitas Bangka Belitung (UBB) yang merupakan cikal bakal berdirinya universitas negeri di Bangka Belitung. UBB merupakan penggabungan 3 perguruan tinggi yaitu Polman Timah, STIPER Bangka dan STT Pahlawan 12. Pada bulan Februari 2009 UBB resmi menjadi universitas negeri dengan ditandatanganinya MoU penyerahan semua aset UBB dari Yayasan Cendikia Bangka kepada Dirjen Dikti Depdiknas.
·         Universitas Bangka Belitung (UBB)
·         STAIN SYEKH ABDURRAHMAN SIDIK
·         STIPER Bangka Bergabung dengan Universitas Bangka Belitung (UBB)
·         STIKES Abdi Nusa
·         Akademi Akuntansi Bangka
·         STIE IBEK Babel (STIE IBEK Babel)
·         STIE Pertiba
·         STIH Pertiba
·         Akademi Kebidanan
·         STISIPOL Pahlawan 12
[Pendidikan Dasar dan Menengah
Pada tahun ajaran 2007/2008 rasio murid TK terhadap sekolah di provinsi ini sebesar 67, berarti rata-rata setiap sekolah TK yang terdapat di Kepulauan Bangka Belitung kurang lebih memiliki 67 murid. Rasio murid sekolah di SD sebesar 180.
Sedangkan untuk Madrasah Ibtidaiyah rasio murid sekolah sebesar 129. Rasio murid sekolah pada jenjang SLTP pada tahun ajaran 2006/2007 sebesar 231 artinya rata-rata sekolah SLTP negeri menampung kurang lebih 231 murid.
Untuk Madrasah Tsanawiyah, rasio murid sekolah sebesar 137. Pada jenjang Sekolah Menengah Umum (SMU) di Kepulauan Bangka Belitung rasio murid sekolah sebesar 300. Adapun SMK memiliki rasio murid sekolah sebesar 297. Sedangkan untuk Madrasah Aliyah (MA), rasio murid sekolah MA sebesar 113.
Keagamaan
Penduduk Kepulauan Bangka Belitung merupakan masyarakat yang beragama dan menjunjung tinggi kerukunan beragama. Tempat peribadatan agama di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung ada sebanyak 730 masjid, 454 musala, 115 langgar, 87 gereja protestan, 30 gereja katolik, 48 vihara dan 11 centiya. Pada pemberangkatan haji tahun 2007 jumlah jemaah haji yang terdaftar dan diberangkatkan ke tanah suci sebanyak 1012 jemaah.
Rumah adat
Secara umum arsitektur di Kepulauan Bangka Belitung berciri Arsitektur Melayu seperti yang ditemukan di daerah-daerah sepanjang pesisir Sumatera dan Malaka.Di daerah ini dikenal ada tiga tipe yaitu Arsitektur Melayu Awal, Melayu Bubung Panjang dan Melayu Bubung Limas. Rumah Melayu Awal berupa rumah panggung kayu dengan material seperti kayu, bambu, rotan, akar pohon, daun-daun atau alang-alang yang tumbuh dan mudah diperoleh di sekitar pemukiman.
Bangunan Melayu Awal ini beratap tinggi di mana sebagian atapnya miring, memiliki beranda di muka, serta bukaan banyak yang berfungsi sebagai fentilasi. Rumah Melayu awal terdiri atas rumah ibu dan rumah dapur yang berdiri di atas tiang rumah yang ditanam dalam tanah.
Berkaitan dengan tiang, masyarakat Kepulauan Bangka Belitung mengenal falsafah 9 tiang. Bangunan didirikan di atas 9 buah tiang, dengan tiang utama berada di tengah dan didirikan pertama kali. Atap ditutup dengan daun rumbia. Dindingnya biasanya dibuat dari pelepah/kulit kayu atau buluh (bambu). Rumah Melayu Bubung Panjang biasanya karena ada penambahan bangunan di sisi bangunan yang ada sebelumnya, sedangkan Bubung Limas karena pengaruh dari Palembang. Sebagian dari atap sisi bangunan dengan arsitektur ini terpancung. Selain pengaruh arsitektur Melayu ditemukan pula pengaruh arsitektur non-Melayu seperti terlihat dari bentuk Rumah Panjang yang pada umumnya didiami oleh warga keturunan Tionghoa. Pengaruh non-Melayu lain datang dari arsitektur kolonial, terutama tampak pada tangga batu dengan bentuk lengkung.
Atraksi/Event Budaya
·         Perang Ketupat
·         Buang Jong
·         Mandi Belimau
·         Ruwah
·         Kongian
·         Imlek
·         Sembahyang Rebut
·         Sembahyang Kubur
·         Kawin Masal
·         Nganggung
·         Maulid Nabi Muhammad
·         Isra' Mi'raj
·         Muharoman
·         Selikur
·         Nyukur
·         Idul Fitri/Hari Raya Puasa
·         Idul Adha/Hari Raya Haji
·         Nujuh Hari
·         Empat Puluh Hari
·         Nyeratus Hari
Kain tradisional :Kain Cual
Senjata tradisional
Parang bangka bentuknya seperti layar kapal. Alat ini digunakan terutama untuk perkelahian jarak pendek. Senjata ini mirip dengan golok di Jawa, namun ujung parang ini dibuat lebar dan berat guna meningkatkan bobot supaya sasaran dapat terpotong dengan cepat. Parang yang berdiameter sedang atau sekitar 40 cm juga dapat digunakan untuk menebang pohon karena bobot ujungnya yang lebih besar dan lebih berat.
Kedik adalah alat tradisional yang digunakan sebagai alat pertanian. Alat ini digunakan di perkebunan terutama di kebun lada. Dalam menggunakannya si pemakai harus berjongkok dan bergerak mundur atau menyamping. Alat ini digunakan dengan cara diletakkan pada tanah dan ditarik ke belakang. Alat ini efektif untuk membersihkan rumput pengganggu tanaman lada. Kedik biasanya digunakan oleh kaum wanita karena alatnya kecil dan relatif lebih ringan. Kedik hanya dapat digunakan untuk rumput jenis yang kecil atau rumput yang tumbuh dengan akar yang dangkal, bukan ilalang.
Media Massa Lokal
·         Harian Bangka Pos
·         Harian Babel Pos
·         Harian Radar Bangka
·         Harian Rakyat Pos
·         Harian Metro Bangka Belitung
·         Radio Jendela Serumpun Sebalai ( JESS )
·         Radio Sonora
·         Radio Eljohn
·         Radio Prima
·         Bangka TV
·         Radio Pratama FM 99.2 MHz
·         Radio Republik Indonesia Sungailiat Provinsi Kepulauan bangka Belitung FM 96,4 MHz (Media Lokal sekaligus Media Nasional)
·         Radio Bernada FM 98.0 MHz, Sungailiat
Tokoh-tokoh
·         Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra (Mantan Mensesneg, Menhuham)
·         Andrea Hirata (Penulis Buku Laskar Pelangi)
·         H M. Arub, SH (Mantan Wakil Gubernur Sumatera Selatan)
·         Prof. Dr. Sofian Effendi, MPIA (Mantan Rektor UGM Yogyakarta)
·         Prof. Dr. Djalaluddin (Mantan Rektor IAIN Raden Fatah Palembang)
·         Prof. Dr. Djamaluddin Ancok (Guru Besar Psikologi UGM)
·         Antasari Azhar, SH (Mantan Ketua KPK)
·         Marsekal Muda TNI Dr. Rio Mendung (Wakil Gubernur Lemhanas)
·         Yan Juanda Saputra, SH, MH (Advokat)
·         Secarpiandy, SH (Advokat)
·         H. Emron Pangkapi (Ketua DPP PPP)
·         H. Muhammad Muas, SH (Fungsionaris DPP Partai Golkar)
·         Drs. Agus Tarmizi (mantan Dubes RI untuk Austria)
·         Idham Kholid
Anggota DPR RI Daerah Pemilihan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung
Periode 2004-2009
·         Ir. H. Azhar Romli, MM dari Fraksi Partai Golkar
·         Ir. Rudianto Tjen dari Fraksi PDI Perjuangan
·         Dr. Yusron Ihza, LLM dari Fraksi Partai Bulan Bintang
Periode 2009-2014
·         Ir. Rudianto Tjen dari Fraksi PDI Perjuangan
·         Ir. Basuki Tjahaya Purnama, dari Fraksi Partai Golkar
·         H. Paiman dari Fraksi Partai Demokrat
·         [sunting] Anggota DPD RI Daerah Pemilihan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung
Periode 2004-2009
·         Drs.H.Rusli Rahman, MSi
·         Drs.H.Rosman Johan
·         H.Jamillah Sofyan
·         Fajar Fairy Rusni, SH
Periode 2009-2014
·         Tellie Gozelie, SE
·         Hj.Noorhari Astuti
·         Drs.H.Rosman Johan
·         Bahar Buasan, ST
·         [sunting] Seniman
·         Idang Rasjidi
·         Ian Sanchin
·         Willy Siswanto
·         Soetejo AS
·         Vhicar Studio
·         Syuhada
·         Riwan Kusmiadi
·         Gias Oktario
·         Suhaimi Sulaiman
·         Abu Noeril
·         Artika Sari Dewi
·         Sandra Dewi
·         Andrea Hirata
·         Rafika Duri
·         Tommy Ali
·         Delon
·         Adri Manan
·         Aidil KDI
·         Kiki KDI
·         Elis Stania
·         Muhamad Azhari
Ilmuwan dan akademisi
·         Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, SH, MSc (Guru Besar Hukum Tata Negara UI)
·         Dr. Sofian Effendi, MPIA (Guru Besar Administrasi Publik UGM)
·         Prof. Dr. Jamaluddin Ancok (Guru Besar Psikologi UGM)
·         Prof. Dr. Ir. M.T. Zen (Guru Besar Geologi ITB)
·         Prof. Dr. Harun Al Rasyid, SH (Guru Besar Hukum Tata Negara UI)
·         Prof. Dr. Jalaluddin Rakhmat (Guru Besar IAIN Raden Patah)
·         Prof. Freddy P. Zen, M.Sc, D.Sc (Guru Besar Fisika ITB (profile))
·         Antasari Azhar (Mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi)
·         Prof. Dr. Bambang Purwanto, MA, Ph.D (Guru Besar Sejarah Asia UGM)
·         drg. Erwan Sugiatno, M.S., Sp.Pros(K)., Ph.D. (Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Alumni, Pengembangan Usaha dan Penelitian UGM)
Alat musik dan tarian tradisional
·         Dambus
·         Suling
·         Gendang Melayu
·         Tari Tanggai
·         Tari Zapin
·         Tari Campak
·         Rebana
·         Rudat
·         Tari Bahtera Bertiang Tujuh
·         Sekapur Sirih
Masakan/makanan tradisional
Lempah kuning adalah masakan khas dari Pulau Bangka. Bahan dasar makanan ini adalah ikan laut dan dapat juga memakai daging, yang kemudian diberi bermacam bumbu dapur seperti kunyit, bawang merah dan putih serta lebngkuas dan terasi atau belacan yang khas dari daerah Bangka.
Getas atau Keretekadalah makanan yang berbahan dasar ikan dan terigu yang buat dengan berbagi bentuk yang rasanya hampir sama dengan kerupuk.
Rusip adalah makanan yang terbuat dari bahan dasar ikan bilis yang dicuci bersih dan diriskan secara steril, kemudian dicampur dengan garam yang komposisinya seimbang. Di samping itu ditambahkan juga air gula kabung agar aroma lebih terasa, kemudian disimpan sampai menjadi matang tanpa proses pemanasan. Adonan ini harus ditutup dengan wadah yang rapat agar tidak tercampur dengan benda asing apapun. Dahulu biasanya proses adonan ini ditempatkan dalam guci yang bermulut sempit. Suhu ruangan harus dijaga. Makanan ini dapat dimasak dulu atau dimakan langsung dengan lalapan.
Calok Terbuat dari udang kecil segar yang disebut dengan udang cencalo/rebon. Udang dicuci bersih dan dicampur dengan garam sebagai pengawet agar tahan lebih lama. sangat cocok untuk teman lauk nasi hangat dengan lalapan ketimun, tomat dan sayuran segar lainnya. Calok juga enak sebagai campuran omelete telur, rasanya akan lebih gurih dan nikmat.
Teritip . Tetirip adalah sejenis tiram kecil yang biasanya hidup di tepi pantai dan melekat pada bebatuan. dagingnya sangat kecil tapi memiliki rasa da tekstur seperti tiram pada umumnya. biasanya dimakan segar atau di asinkan dengan garam jika ingin disimpan.Teritip sangat nikmat jika ditambahkan dengan cabe merah dan jeruk kunci (sejenis jeruk asam khas bangka).
Lempok, makanan sejenis dodol yang terbuat dari campuran gula pasir dan buah-buahan tertentu (umumnya cempedak, nangka dan durian). Buah yang digunakan dilembutkan sampai memyerupai bubur, kemudian dicampur dengan gula pasir dengan perbandingan tertentu dan dipanaskan di atas api sampai kecoklatan dan mudah dibentuk. Selama pemanasan, campuran harus selalu diaduk.
Masyarakat keturunan Tionghoa dari daerah ini terkenal karena masakannya serta kue-kue basahnya. Mie Bangka, Martabak Bangka atau Hok Lopan atau Van De Cock, Ca Kwe dan berbagai jenis makanan lainnya sering kali dijual oleh kelompok masyarakat ini yang merantau ke kota-kota besar di luar provinsi ini.
Daftar gubernur
No.
Foto
Nama
Dari
Sampai
Keterangan
1.

22 April 2002
Penjabat Gubernur
2.
Hudarni Rani.jpg
26 April 2007

3.
Eko Maulana Ali.jpg
sekarang


] Sejarah kepahlawanan Bangka
·         Depati Bahrin
·         Depati Amir
·         Batin Tikal
·         Depati Hamzah
·         Pahlawan Dua Belas
Tempat wisata
Pulau Bangka sangat terkenal dengan keindahan pantainya. Pada umumnya pantai di Bangka berpasir putih dan halus namun ada juga yang berwarna kuning keemasan seperti bulir padi. Pantainya landai dengan ombak lumayan besar dan dikelilingi oleh batu vulkanik yang unik dan indah. Beberapa pantai yang terkenal di Pulau Bangka antara lain:
·         Pantai Parai Tenggiri
·         Pantai Matras
·         Pantai Tanjung Pesona
·         Pantai Rebo
·         Pantai Batu Berdaun
·         Pantai Pasir Padi
·         Pantai Gunung Namak, Bangka Selatan
Khusus Pulau Belitung merupakan pulau yang indah dengan pasir putih, pemandangan unik dengan pantai pasir putih yang asli dihiasi oleh batu-batu granit yang artistik dan air laut sejernih kristal dan dikelilingi oleh ratusan pulau-pulau kecil. Salah satu pantai terbaik dan unik di Indonesia, seperti:
·         Tanjung Kelayang
·         Tanjung Binga
·         Tanjung Tinggi
·         Pulau Lengkuas
·         Pulau Kepayang
·         Pantai Punai
·         Pantai Tanjung Pendam
·         Pantai Nyiur Melambai
·         Pantai Burung Mandi
·         Pantai Bukit Batu
Selain objek wisata pantai terdapat juga obyek wisata lainnya antara lain:
·         Pesanggrahan Bung Karno Bukit Menumbing
·         Wisma Ranggam Mentok
·         Rumah Mayor Mentok
·         Masjid Jami' di Mentok
·         Tangga Seribu Mentok
·         Museum Timah Pangkalpinang
·         Masjid Jami' Pangkalpinang
·         Perkampungan Cina Tradisional Simpang Gedong
·         Taman Pha Kak Liang di Belinyu
·         Kolam Pemandian Air Panas di Pemali
·         Vihara Dewi Kuan Im di Sungailiat
·         Lokasi Film Laskar Pelangi di Gantung
·         Vihara Budhayana Dewi Kwam In Damar
·         Bendungan Pice Gantung
·         A1 Bukit Samak Manggar
·         Museum Buding
·         Situs Raja Balok di Desa Balok Kecamatan Dendang
·         Perigi Belande Buding
Prasarana Transportasi
·         Bandar Udara Depati Amir di Pangkalpinang
·         Bandar Udara HAS Hanandjuddin di Tanjung Pandan
·         Pelabuhan Pangkalbalam di Pangkalpinang
·         Pelabuhan Tanjung Gudang di Belinyu
·         Pelabuhan Tanjung Kalian di Mentok
·         Pelabuhan Sadai di Sadai, Toboali
·         Pelabuhan Tanjung Pandan di Tanjung Pandan (telah berganti nama menjadi "Pelabuhan Laskar Pelangi")
·         Pelabuhan Tanjung Batu
·         Pelabuhan Tanjung Ru di Pegantongan
·         Pelabuhan Manggar

Makna Hari Ibu
Hari ini tanggal 22 Desember 2008 kita memperingati Hari Ibu yang dirayakan secara nasional. Di beberapa negara juga terdapat peringatan Hari Ibu yang lebih dikenal dengan nama Mother’s Day. Walaupun ada perbedaan hari seperti di Amerika dan Kanada merayakan Hari Ibu pada hari Minggu di minggu kedua bulan Mei, namun maknanya tetap sama. Kata ibu disini mencangkup Ibu, Nenek maupun Calon Ibu.
Sejarah hari ibu di indonesia sendiri dimulai dengan diadakannya kongres pertama organisasi-organisasi wanita di Jogjakarta pada tanggal 22 Desember 1928. Kongres perempuan ini kini dikenal dengan nama Kongres Wanita Indonesia. Organisasi perempuan sendiri sudah bermula sejak 1912 yang terilhami oleh pejuang wanita nasional seperti M. Christina Tiahahu, Cut Nya Dien, Cut Mutiah, R.A. Kartini, Walanda Maramis, Dewi Sartika, Nyai Achmad Dahlan, Rangkayo Rasuna Said dan lain-lain. ( sumber : http://yulian.firdaus.or.id/2004/12/22/sejarah-hari-ibu/ )
Jadi jelas kongres perempuan ini bertujuan atau memiliki makna untuk ikut mengambil bagian dalam pergerakan nasional. Saat ini Indonesia sudah merdeka namun wanita selalu mengambil bagian dalam rangka pembangunan nasional. Di susunan kabinet menteri sudah sering wanita menduduki posisi menteri, bahkan menjadi presiden RI ke-5, yaitu Megawati Soekarno Putri. Peran wanita dalam pemerintahan pusat maupun daerah juga tidak dapat dipungkiri.
Ditengah keterbatasan wanita, ternyata wanita mampu untuk ikut berpartisipasi dalam dominasi dunia pria di Indonesia. Kita sudah sering melihat prestasi wanita dalam berbagai bidang seperti politik, sosial, teknologi, maupun olah raga. Walaupun masih banyak orang yang merendahkan kaum wanita namun mereka tetap dapat menunjukkan eksistensinya dalam berbagai bidang. Jika demikian apakah kita pantas untuk merendahkan martabat kaum wanita?
Terlepas dari peran serta wanita dalam berbagai bidang, hendaknya kita memaknai Hari Ibu karena peran besarnya dalam melahirkan dan merawat kita sehingga menjadi pribadi yang besar saat ini. Seringkali kita melihat di samping pemimpin besar selalu ada wanita yang tangguh. Baik sebagai istri maupun sebagai Ibu kita akan selalu melihat fenomena ini di Dunia. Jadi kita hendaknya harus selalu menghormati kaum wanita karena peran besar seorang Ibu yang tak dapat digantikan oleh kaum pria yaitu melahirkan Anak. Tanpa beliau kita tidak ada di muka bumi ini.
Mario Teguh menyebutkan dalam Golden Ways, hanya dengan memikirkan atau mengucapkan kata ibu maka kita langsung teringat dengan jasa Ibu kita, membuat diri kita terenyuh dan berpikir apakah saya sudah berbuat baik untuk membalas jasa besar Ibu kita? Jasa ibu sendiri tidak bisa kita gantikan dalam kehidupan ini.
Sebagai anak maka patutlah bagi kita untuk mendengarkan nasehat beliau dan merawat beliau kelak ketika sudah berumur. Sebagai seorang suami maka hendaknya suami selalu menghormati pendapat istri dan tidak menganggap rendah istrinya sehingga melakukan kekerasan rumah tangga karena kelemahan wanita.
Marilah kita memaknai Hari Ibu ini dengan lebih menghormati jasa dan peran wanita dalam hidup kita.

Sejarah Kota Muntok
Pulau Siantan ternyata punya peranan penting dalam sejarah berdirinya kota Muntok, ibukota kabupaten Bangka Barat, Provinsi Bangka Belitung. Bahkan konon adalah orang-orang dari Siantan pula yang pertama kali menemukan timah di Muntok, hingga kemudian menyebabkan orang dari berbagai penjuru ramai kemari. Adalah dua bersaudara yakni Pangeran Anom dan Pangeran Krama Jaya yang berasal dari Palembang yang mulanya menetap di Siantan. Kedua bangsawan itu sengaja pergi dari Palembang karena menolak penobatan pamannya Sri Teruno menjadi Sultan Palembang yang kemudian bergelar Sultan Agung Komarudin Sri Teruno.
Sebelum ke pulau Siantan, kedua pangeran itu sempat pula menetap di Johor, namun karena silang sengketa dengan penguasa Johor mereka memilih meninggalkan negeri itu. Di pulau Siantan, kedua bangsawan Palembang ini menikah dengan perempuan setempat. Pangeran Krama Jaya menikah dengan seorang perempuan Cina muslim bernama Zamnah versi Carita Bangka atau Yang Mariam berdasarkan Hikayat Siak. Zamnah atau Yang Mariam merupakan anak daripada Wan Abdul Jabar bin Abdul Hayat.
Berkat pengalaman dan kharisma, mereka Pangeram Anom dan Pangeran Krama Jaya menjadi orang yang berpengaruh di Siantan, mereka kemudian mencoba kembali ke Palembang dengan membawa sejumlah pasukan. Pangeran Anom yang sejak semula memang tidak setuju dengan penobatan pamannya sebagai Sultan Palembang menginginkan jabatan yang dulu dipegang ayahandanya itu yang sudah barang tentu ditolak pamannya.
Namun karena Pangeran Anom mendapat dukungan dari orang-orang di pedalaman, ambisinya untuk menjadi Sultan Palembang semakin kuat. Tetapi keinginannya itu tidak hanya menuai konflik dengan pamannya, namun juga dengan Pangeran Krama Jaya yang dulu pernah menetap bersama ia di pulau Siantan. Salah satu sebab selisihnya dengan Pangeran Krama Jaya adalah karena Krama Jaya telah menikah dengan sepupunya atau anak Sultan Agung Komarudin Sri Teruno, janda daripada putra Pangeran Purbaya almarhum. Konflik pun semakin memanas terutama setelah adanya campur tangan Belanda. Pangeran Anom akhirnya mundur dari Palembang hingga ke daerah pedalaman, dan kemudian berlabuh di Jambi.
Setelah Sultan Agung Komarudin Sri Teruno wafat, Pangeran Krama Jaya dinobatkan menjadi Sultan Palembang dengan gelar Sultan Mahmud Badaruddin I. Sultan Mahmud giat melaksanakan pembangunan, beliau membangun banteng, Masjid Agung, dan kanal-kanal. Tak hanya di Palembang ia bahkan juga membangun kota baru yakni kota Mentok atau kota Muntok yang terletak di pulau Bangka.
Mentok didirikan sebagai sebagai penghormatan terhadap istri pertamanya yang berasal dari pulau Siantan. Bahkan istrinya yang bergelar Mas Ayu Ratu itu pulalah yang menetapkan letak kota Mentok yakni di pesisir Barat pulau Bangka, dekat gunung Menumbing.
Seperti disampaikan Djohan Hanafiah dalam seminar sehari tentang Hari Jadi Kota Mentok tahun 2009 silam sebagaimana ditulis oleh Sumardoni 14 Agustus 2009 dalam media Berita Musi, kata Mentok sendiri berasal dari kata “Entok” dari bahasa asli Siantan yang berarti “itu” yang diucapkan Mas Ayu Ratu saat menentukan kota yang akan dibangun Kesultanan Palembang itu. Pilihan terhadap daerah Barat di pulau Bangka ini, selain tanahnya subur, juga lebih dekat dijangkau dari kota Palembang.
Kota Mentok yang mulai di bangun pada bulan September 1734 menjadi bertambah maju terutama setelah sejumlah orang Siantan yakni dari keluarga Mas Ayu Ratu menemukan tambang timah di pesisir kota itu. Berbagai suku bangsa di nusantara maupun Asia pun ramai berdatangan ke Mentok untuk bekerja sebagai penambang timah atau berdagang. Konon keturunan orang-orang Siantan dari keluarga Mas Ayu Ratu di Mentok sampai saat ini masih bertahan. Para lelakinya, yang masih murni keturunan keluarga Mas Ayu Ratu, mendapat gelar panggilan Abang, sedangkan perempuan mendapat gelar Yang.
Namun demikian, tak banyak dari orang di Bangka Barat yang tahu bahwa Siantan yang dimaksud dalam sejarah berdirinya kota Mentok adalah pulau Siantan yang terletak di gugusan Kepulauan Anambas dan berada di wilayah Provinsi Kepulauan Riau-Indonesia. Banyak yang mengira bahwa Siantan yang dimaksud berada dalam wilayah Kesultanan Johor-Malaysia. Hal ini dapat dimaklumi, karena memang pulau Siantan dulunya berada dibawah kekuasaan Johor sampai kelak Traktat London memisahkannya. Bahkan Wan Abdul Hayat yang bernama asli Lim Tau Kian yang semula adalah seorang bangsawan dari Cina, juga adalah orang kepercayaan Sultan Johor yang dipercayakan untuk memerintah di negeri Siantan. Disamping itu perkembangan Siantan yang dulu kerap menjadi tempat pelarian politik bangsawan Bugis, Cina, dan Johor sendiri seperti tenggelam oleh zaman terutama ketika wilayah ini dihilangkan statusnya sebagai pusat kewedanaan Pulau Tujuh dan hanya menjadi sebuah kecamatan yang terisolir dan miskin dibawah rezim Orde Baru.

Kini pulau Siantan sejak pertengahan 2008 telah ditetapkan sebagai ibukota Kabupaten Kepulauan Anambas, dan semoga perkembangannya sejalan dengan nama mashurnya yang sempat tercatat dalam beberapa literatur sejarah Melayu tempo dulu
SEPENGGAL CERITA MUNTOK
Tugu Bung Hatta di depan Pesanggrahan Mentok, terletak di pusat kota Mentok, Kabupaten Bangka Barat. Di rumah itulah Bung Karno menghabiskan sebagian besar waktu saat diasingkan tahun 1949. Pesanggrahan itu kini menjadi penginapan.”Nak, kita harus berjuang terus. Pantang mundur!” Kalimat itu membekas dalam ingatan RA Indrawati (79) kendati diucapkan 59 tahun silam oleh Ir Soekarno. Kata-kata presiden pertama RI yang diasingkan ke Bangka itulah yang mengobarkan semangat Indrawati untuk terus berjuang mengusir Belanda yang hendak menguasai kembali Indonesia.
Indrawati—pekerja palang merah TKR di Mentok—tidak sendiri. Masyarakat Residentie Banka Belliton en onderhorigheden alias Keresidenan Bangka Belitung waktu itu begitu bersemangat mempertahankan kemerdekaan. Kehadiran sejumlah negarawan ke tempat yang disebut pengasingan meninggalkan sebuah kesan tersendiri, terutama bagi warga Bangka, terlebih yang berdomisili di Mentok.
Para tokoh yang sempat tinggal di Bangka mengalami nasib serupa, yakni dibuang oleh Belanda setelah Yogyakarta, ibu kota Indonesia, diduduki kembali oleh Belanda dalam agresi militer II, 19 Desember 1948. Selain Bung Karno, Wapres Bung Hatta, Menteri Luar Negeri Agus Salim, M Roem, Ali Sastroamijoyo, Komodor Udara Suryadarma, serta Mr AG Pringgodigdo juga dibuang di Bangka selama lima hingga tujuh bulan, mulai akhir Desember 1948 sampai pertengahan tahun 1949.
Sebagian catatan tentang pembuangan para tokoh di Bangka menuliskan bahwa keberadaan para tokoh di pulau timah ini dimanfaatkan untuk bersantai. Pendapat ini ada benarnya juga kendati ada sejumlah gerakan tersembunyi yang dikerjakan para tokoh di tempat mereka tinggal ketika itu.
BANYAK WAKTU
Para tokoh ini menghabiskan banyak waktu di dua tempat, yakni Bukit Menumbing dan Pesanggrahan Mentok yang keduanya terletak di kota Mentok. Mentok—sebagian orang juga menyebut Muntok—terletak sekitar 133 kilometer dari Kota Pangkal Pinang, ibu kota Provinsi Bangka Belitung kini. Sekitar dua abad sebelum tahun 1913, Mentok adalah ibu kota Bangka sebelum dipindahkan ke Pangkal Pinang.
Tempat pengasingan di Bukit Menumbing kerap digunakan oleh Bung Hatta, Suryadarma, Assaat, dan Abdul Gafar Pringgodigdo. Bung Karno, Agus Salim, M Roem, dan Ali Sastroamijoyo banyak menghabiskan waktu di Pesanggrahan Mentok.
”Bung Karno jarang ke Menumbing karena di sana dingin. Beliau lebih sering ke Pesanggrahan Mentok. Ini, kamar nomor 12, yang menjadi kamar beliau,” kata Salikin SK, putra Mentok yang mewarisi kejadian 1948-1949 dari kisah-kisah orangtua serta bangunan fisik bersejarah yang masih tersisa di Mentok.
Kedua tempat itu berjarak sekitar 11 kilometer. Nasibnya kini sama: dijadikan tempat penginapan umum kendati tamu yang datang hanya kadang-kadang saja.
PENGANAN "PELITE"
Pelite menjadi ”saksi sejarah” sebuah masa yang begitu berharga bersama bapak bangsa. Penganan kebanggaan masyarakat kota Mentok yang terbuat dari olahan tepung beras, santan, dan gula yang ditempatkan di wadah mungil dari daun pandan ini merupakan salah satu makanan kesukaan Bung Karno.
Tidak mengherankan, ketika Bung Karno mengajak masyarakat Mentok berjalan-jalan menyusuri pantai dari Pesanggrahan Mentok ke Tanjung Kalian, pelite juga ikut disiapkan sebagai hidangan pelepas lelah di dekat mercu suar Tanjung Kalian.
”Ada sekitar 70 orang yang ikut berjalan-jalan. Sebagian besar anak muda: wanita dan pria PORI,” tutur Indrawati di sela-sela acara Napak Tilas Bung Karno yang diselenggarakan Dinas Perhubungan, Kebudayaan, dan Pariwisata Kabupaten Bangka Barat, 30 Agustus 2008.
Aktivis PORI Abu Hurairah yang ketika itu berusia 19 tahun juga mengenang acara jalan bersama itu sebagai sebuah kegiatan rekreasi. ”Saya masih anak-anak ketika itu sehingga berjalan di bagian belakang rombongan. Tak ada ucapan penting yang disampaikan Soekarno. Acara itu hanya jalan-jalan. Bung Karno kalau jalan cepat sekali,” urai Abu yang kini berusia 78 tahun.
AA Bakar dalam buku Kenangan Manis dari Menumbing yang diterbitkan Balai Pustaka, 1993, menyebutkan kegiatan jalan bersama Soekarno sebagai kenangan tidak terlupakan bagi masyarakat Bangka. Sepanjang jalan dinyanyikan lagu mars. Adik ipar bestuurshoofd atau kepala pemerintahan Bangka Barat—yang beribu kota di Mentok—ini juga pernah menjadi pelayan Bung Hatta dan sejumlah tokoh yang banyak menghabiskan waktu di Bukit Menumbing.
Pelite yang disediakan para ibu di Mentok mengesankan bahwa acara pada tahun 1949 itu tidak lebih sebagai sebuah hiburan bagi masyarakat. Maklum, di masa yang rawan itu, masih banyak mata-mata Belanda yang berseliweran.
Bendera merah-putih saja tidak boleh dikibarkan di Bangka. Namun, bukan Bung Karno dan para petinggi republik ini jika tidak bisa mengatasi kondisi itu. Bendera merah-putih digantikan dengan biru-putih yang disamarkan sebagai bendera PORI.
PORI merupakan akronim dari Perkumpulan Olahraga Republik Indonesia, cikal bakal Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) saat ini. PORI didirikan di Mentok pada masa itu untuk menggalang persatuan para pemuda. Organisasi politik sudah pasti akan dilarang oleh Belanda sehingga peluang untuk mengobarkan semangat perjuangan dilakukan lewat bidang olahraga.
Organisasi lain yang didirikan Bung Karno adalah Angkatan Pemuda Indonesia (API). Sayangnya, bangunan kantor API kini berubah menjadi gardu pemuda.
Selain menggelar jalan bersama, Bung Karno juga kerap mengunjungi warga setempat sekadar bercengkerama. Di situlah semangat berjuang terus digelorakan kendati tidak secara terbuka.
”Bung Karno banyak bercerita tentang Bangka di masa dulu. Dia begitu paham tentang sejarah Bangka. Ini disampaikan juga kepada warga yang dikunjunginya di rumah,” kenang Abu Hurairah.
KEMENANGAN
Salah satu ruangan di Pesanggrahan Mentok menjadi tempat negosiasi pimpinan Indonesia yang tengah diasingkan dengan pihak Belanda. Di situ mulai didesakkan pengembalian kedaulatan Indonesia dengan mengembalikan Yogyakarta sebagai ibu kota Indonesia.
Pilihan Belanda untuk mengasingkan pimpinan Indonesia ke Bangka menjadi kurang tepat. Masyarakat Bangka bahkan mendorong kemerdekaan penuh Indonesia. Tanggal 21 Februari 1949, Soekarno menuliskan bahwa rakyat Bangka bersemangat bergabung dengan Indonesia.
Perpisahan masyarakat Mentok dengan para tokoh republik ini dilaksanakan 5 Juli 1949 setelah Yogyakarta dikembalikan menjadi ibu kota Indonesia. Tanggal 6 Juli, rombongan Soekarno meninggalkan Mentok menuju Pangkal Pinang, dan sehari kemudian terbang ke Yogyakarta.
Di kancah internasional, terbetik slogan van Bangka begint de victorie, yang oleh M Roem diterjemahkan menjadi ”dari Bangka datangnya kemenangan”. Sebuah harapan menyelinap setelah 59 tahun peristiwa itu berlalu: akankah Bangka kembali menorehkan sejarah besar di bangsa ini? (Sumber : Kompas Senin, 22 September 2008/ Agnes Rita Sulistyawaty
MUNTOK KOTA SERIBU
Sekitar tahun 1724-1725 M, Sultan Mahmud Badaruddin I (Kesultanan Palembang) memerintahkan istrinya, Mas Ayu Ratu Zamnah, beserta para petinggi kesultanan untuk berangkat dan memilih lokasi di Pulau Bangka untuk tempat tinggal keluarganya dari Pulau Siantan. Salah satu petinggi yang berangkat adalah Kepala Negeri Siantan yang bernama Wan Akub Bin Wan Awang bersama saudaranya Wan Serin serta keluarga dari Pulau Siantan diperintahkan untuk mendirikan tempat tinggal di daerah tersebut. Maka dipilihlah daerah semenanjung ada ada di Pulau Bangka.
Pada perkembangan berikutnya, terbentuklah suatu komunitas kecil di daerah itu, disebutlah daerah itu dengan nama “Muntok” , dan Wan Akub dijadikan Kepala Pemerintahan yang pertama kali di Muntok. Wan Akub juga  menjadi Kepala Urusan Penambangan Timah di Pulau Bangka yang berkedudukan di Muntok dengan gelar Datuk Rangga Setia Agama.
Kepala Pemerintahan di Muntok selanjutnya adalah Wan Abdul Jabar dari Pulau Siantan dengan gelar Datuk Dalam. Beliau adalah mertua dari Sultan Mahmud Badaruddin I (Wan Abdul Jabar adalah Ayahanda Mas Ayu Ratu Zamnah). Meninggalnya Wan Abdul Jabar pada tahun 1730, pemerintahan di Muntok dipegang oleh Putera Wan Serin, yaitu Wan Usman dengan gelar Rangga Usman. Pada masa pemerintahannya, Rangga Usman mempunyai kekuasaan di seluruh Pulau Bangka.
Sultan Mahmud Badaruddin Iwafat pada tahun 1756, maka Kesultanan Palembang digantikan oleh Ahmad Najamuddin, dan keadaan di Muntok pada saat itu juga sedang berkabung karena wafatnya Rangga Usman. Menyikapi keadaan itu, maka Sultan Palembang yang baru (Ahmad Najamuddin) mengangkat Temenggung dari Keturunan Bangsawan Melayu Pulau Siantan untuk menjadi Kepala Pemerintahan di Muntok sekaligus menjadi Kepala Pemerintahan Pulau Bangka
Bermula dari Temenggung Dita Menggala (Abang Pahang), Temenggung Kertamenggala (Abang Ismail), Temenggung Kartanegara I (Abang Muhammad Toyib) dan Temenggung Kartanegara II (Abang Muhammad Ali). (Sumber naskah: M. Isa Djamaludin

Sejenak kita menengok ke belakang, Wisma Ranggam ini merupakan saksi bisu sepenggal kisah hidup dan perjuangan Bung Karno, Bung Hatta serta tokoh-tokoh perjuangan kemerdekaan Indonesia selama masa pengasingan di Bangka medio 1948-1949. Sejarah mencatat, para pemimpin RI mulai diasingkan Belanda ke Muntok pada Desember 1948. Mereka antara lain Bung Hatta, Mr Mohammad Roem, Mr Pringgodigdo, Mr Assa’at, Komodor Suryadarma, dan Ali Sostroamidjoyo. Dua bulan kemudian, tepatnya 6 Februari 1949, menyusul, Presiden RI Ir Soekarno serta Menlu H Agus Salim yang sebelumnya sempat diasingkan di Prapat, Sumatera Utara.
Pesanggrahan Muntok adalah nama asli Wisma Ranggam. Kata pesanggrahan diambil dari bahasa Sansekerta yang berarti tempat peristirahatan atau penginapan. Perubahan nama menjadi Wisma Ranggam semenjak pengelolaan aset peninggalan Belanda ini dibawah Banka Tin Winning. Sejak itu nama Wisma Ranggam lebih populer di telinga masyarakat Bangka, bahkan mungkin dunia sekalipun. Dahulunya selain dijadikan tempat menginap, Wisma Ranggam juga digunakan sebagai tempat pertemuan memperjuangkan Bangsa Indonesia lepas dari belenggu penjajah Belanda kala itu. Bicara soal Wisma Ranggam, tak lepas dari Pesanggrahan Menumbing. Bung Karno selama pengasingan di Muntok, naik-turun menggunakan mobil BN-1 dari Pesanggrahan Menumbing di puncak Bukit Menumbing, ke Wisma Ranggam. Di wisma ini pula, tepatnya 7 Mei 1949, para tokoh bangsa itu menggodok konsep perjanjian Roem Royen yang menetapkan pengembalian kekuasaan RI ke Yogyakarta. Menyusuri kamar-kamar tempat Bung Karno, Bung Hatta dan pejuang kemerdekaan lainnya pernah menginap di sana, terasa seperti bernostalgia ke masa lalu. Namun tak banyak lagi barang-barang peninggalan Bung Karno yang bisa dijumpai di sana. Di bekas kamar Bung Karno, hanya dua-tiga foto besar Sang Proklamator, ada pula foto-foto kenangan 60 tahun lebih silam saat beberapa bulan masa pengasingan. Sedangkan beberapa fasilitas menginap seperti ranjang dan peralatan lainnya sudah tak ada lagi di ruangan berukuran sekitar empat meter kali lima meter itu.
Tetapi sayangnya event seperti ini kurang diekspos secara maksimal oleh pemda setempat, padahal kesempatan ini cukup baik bagi pembangunan pariwisata kota di Pesisir Barat itu. Muntok memiliki objek sejarah yang cukup potensial. Sejarah kota Muntok hingga tempat-tempat pengasingan para pejuang kemerdekaan ada di kota tua ini. Di Muntok, wisatawan dapat pula menikmati kemegahan bangunan tua yang masih kokoh, mercusuar Tanjung Kelian yang dibangun tahun 1862. Dari puncak bangunan itu, pengunjung bisa bisa melihat pemandangan pantai serta sekelilingnya bahkan bangkai kapal sisa Perang Dunia II.
Tak saja objek sejarah, di Muntok juga memiliki pantai dengan panorama alam yang khas, yakni matahari saat tenggelam menjelang petang. Cobalah ketika petang menjelang kita duduk di tepi pantai Tanjung Kalian atau Batu Rakit. Menikmati angin petang sepoi-sepoi dan matahari senja yang memerah sebelum ditelan gelap. Panorama seperti ini tak dimiliki oleh pantai lainnya di Pulau Bangka yang memang menonjolkan objek wisata pantai ini.
Sayang setelah berdiri sebagai ibukota Kabupaten Bangka Barat enam tahun silam, pariwisata kota Muntok dan Bangka Barat keseluruhan masih begitu-begitu saja. Bisa dikatakan jalan di tempat. Infrastruktur penunjang pariwisata, fasilitas penginapan, transportasi, hingga industri pendukung masih serba minim. Begitu pula dengan pemeliharan objek wisata, terutama tempat-tempat bersejarah, bangunan tua, makam tangga seribu tempat para pendiri kota Muntok ini dan objek wisata alam seperti batu balai. Semuanya terbengkalai.
Muntok menjadi kota bersejarah, karena sejak abad 19, di wilayah itu telah terdapat sebuah pelabuhan yang dibangun penjajah Belanda. Pelabuhan Muntok awalnya bernama Minto (dalam peta Kolonial Belanda) ini tercatat sebagai pelabuhan tertua di Pulau Bangka. Dibangun pada masa Inggris berkuasa di Indonesia tahun 1812 hingga 1816.
Tak hanya itu, Muntok menjadi begitu bersejarah. Sebab, di tahun 1949, beberapa tokoh pendiri Republik Indonesia sempat ditahan dan diasingkan di sini. Ada dua tempat bersejarah yang menjadi saksi perjuangan diplomasi para tokoh seperti Bung karno, Bung Hatta, H Agus Salim, dan sejumlah tokoh lainnya.
Mobil Ford BN 10
Tempat wisata yang juga layak dikunjungi adalah wisma Menumbing dan wisma Ranggam. Wisma Menumbing menjadi saksi sejarah, karena Bung Hatta sempat dikerangkeng di wisma yang berada di Bukit Menumbing, sekitar 10 kilometer dari kota Muntok. Sayangnya, kini wisma itu sudah di sulap menjadi hotel dan restoran.
Meski begitu, kita masih dapat melihat jejak-jejak sejarah yang sempat ditinggalkan para tokoh itu. Di sana, ada surat-surat yang pernah ditulis Bung Hatta dan Bung Karno. Selain itu, ada pula mobil Ford bernomor BN 10 yang pernah digunakan para tokoh itu saat diasingkan di Pulau Bangka. Sedangkan, wisma Ranggam adalah saksi sejarah tempat diasingkanya Bung Karno.
Di tempat inilah, selama enam bulan para proklamator dan pendiri bangsa yang lain melakukan perjuangan melalui jalur diplomasi. Meski diasingkan, namun semangat untuk memperjuangkan kemerdekaan tak pernah henti disuarakan Bung Karno dan Bung Hatta di tempat ini.
Menelusuri jejak sejarah di Pulau Bangka memang sungguh tak terlupakan. Semua tinggalan itu mengigatkan kita agar tak melupakan sejarah masa lalu. Sebab, itulah identitas kita sebenarnya. Bangsa yang tak belajar dari sejarah sendiri akan terpaksa mengulanginya.
Hari jadi kota Muntok 7 September ,,,,,,, sekarang 2011 memperingati hari jadi yang ke 277
KOTA Mentok di Kabupaten Bangka Barat adalah kota tua yang berdiri sejak berabad silam. Penjajah Belanda-lah yang membangun daerah itu, sekaligus menjadikannya sebagai kota pelabuhan.
MELALUI Pelabuhan Muntok di Mentok, hasil alam terutama lada putih Bangka yang begitu terkenal diangkut kapal-kapal Belanda menuju ke daratan Eropa. Melalui Pelabuhan Muntok pula timah yang digali dari bumi Bangka dikirim ke negara penjajah.
Bekas kejayaan Mentok-sekaligus kebesaran penjajah Belanda-sampai kini masih jelas terlihat di kota yang kini ditetapkan menjadi ibu kota Kabupaten Bangka Barat tersebut. Ratusan gedung tua dengan mudah ditemui di seantero kota pantai dan perbukitan tersebut.
Dua di antara ratusan gedung tua yang masih kokoh berdiri bahkan memiliki nilai sejarah yang amat tinggi bagi negara ini. Dua gedung tua itu adalah Pesanggrahan Menumbing dan Wisma Ranggam, gedung tersebut pernah dijadikan tempat tinggal pendiri negara ini.
Bung Karno bersama Bung Hatta dan sejumlah pemimpin republik pernah menempati dua bangunan bersejarah itu saat dibuang Belanda pada Februari 1949. Bung Hatta saat dibuang menempati Pesanggrahan Menumbing yang terletak di tengah hutan perawan di atas Bukit Menumbing.
Di dua gedung yang lokasinya berjarak sekitar 10 kilometer itulah pemimpin lain seperti H Agus Salim dan Mr Mohammad Roem dibuang bersama Presiden dan Wakil Presiden RI pertama tersebut.
Di Mentok, wisatawan dapat pula menikmati kemegahan bangunan tua yang masih kokoh, mercu suar Tanjung Kelian yang dibangun tahun 1862. Dari puncak bangunan itu, pengunjung bisa menyaksikan seantero Mentok dan sekitarnya.
Namun, sayang, Mentok pun seperti kota tua yang terlupakan. Kota kecamatan itu tetap belum menjadi daerah tujuan wisata, baik bagi wisatawan luar daerah maupun mancanegara. Mentok baru dinikmati oleh sebagian kecil warga setempat dan daerah lain di Pulau Bangka.
Wisatawan lokal itu umumnya juga hanya menikmati Pantai Tanjung Kelian dan mercu suarnya, serta Bukit Menumbing. Karena belum dikelola menjadi daerah tujuan wisata, menyebabkan Mentok tidak bisa berkembang sebagaimana mestinya.
Untuk Sejumlah kendala menghadang perkembangan Mentok. Salah satu hambatan utama adalah sulitnya transportasi di daerah itu. Agar bisa ke Bukit Menumbing, misalnya, alat transportasi yang bisa digunakan hanya dengan mobil atau sepeda motor sewaan, namun biayanya relatif mahal.
Para tukang ojek sepeda motor, misalnya, memasang tarif Rp 50.000-Rp 75.000 sekali jalan. Sementara mobil sewaan memasang tarif Rp 250.000. Mahalnya biaya disebabkan medan yang berat harus dilalui jika hendak ke Menumbing.
Jalan menanjak yang lebarnya hanya dua meter menjadi alasan mahalnya tarif. Belum lagi perjalanan menuju Menumbing yang harus melalui hutan perawan sejauh lima kilometer. “Saya tidak berani mengantar ke sana,” ujar Sarif, salah seorang tukang ojek sepeda motor ketika diajak ke Menumbing.
Di perbukitan dengan ketinggian sekitar 800 meter dari permukaan laut tersebut pengunjung bisa melihat-lihat kamar tempat Bung Karno dan Bung Hatta serta salah satu mobil yang mereka pakai saat diasingkan Belanda di daerah itu.
Pesanggrahan tempat pembuangan Bung Karno dan Bung Hatta itu sejak beberapa tahun lalu telah diubah menjadi hotel dengan nama Jati Menumbing. Dari atas perbukitan ini, Kota Mentok, Pelabuhan Muntok, dan Selat Bangka terlihat dengan jelas.
Di Mentok juga terdapat Wisma Ranggam yang saat ini tengah dipugar. Gedung tua itu juga pernah menjadi tempat tinggal Bung Karno saat berada dalam pengasingan di Mentok.
Keindahan Mentok tidak hanya itu. Berjalan-jalan di dalam kota kecil itu tidak ubahnya berjalan-jalan di kota tua. Di mana-mana terdapat gedung tua, baik yang masih terawat karena dihuni maupun yang sudah rusak berat karena dibiarkan telantar.
Itu semua bisa menjadi daya tarik bagi pengunjung yang datang. Warga Sumatera, misalnya, bisa datang ke Mentok melalui Pelabuhan Muntok. Dari Pelabuhan Boom Baru di tepi Sungai Musi di Kota Palembang, Mentok dapat dicapai dengan kapal cepat sekitar 2,5- 3 jam.
Belum bisa diwujudkannya Mentok sebagai daerah tujuan wisata, diakui Kepala Seksi Pemerintahan Kecamatan Mentok Fauzi. Menurut dia, hal itu terjadi terutama karena selama ini perhatian pemerintah daerah dan pemerintah pusat masih kurang.
Namun, setelah Kabupaten Bangka dimekarkan dan salah satunya menjadi Kabupaten Bangka Barat, Fauzi yakin Mentok akan tumbuh menjadi daerah tujuan wisata yang dapat diandalkan. “Mentok ditetapkan menjadi ibu kota Kabupaten Bangka. Mudah-mudahan dengan menjadi ibu kota kabupaten, dalam waktu lima tahun ke depan Mentok akan jauh lebih maju,” katanya.
Dengan menjadi ibu kota kabupaten, ungkap Fauzi, pembangunan Mentok tentu akan lebih diperhatikan. Pembangunan di kecamatan yang berpenduduk sekitar 40.000 jiwa itu akan menyentuh pula sektor pariwisata.
WISATA Pulau Bangka memang tidak hanya melulu mengandalkan pantainya yang cantik-cantik. Sejumlah obyek lain di pulau itu bisa diandalkan menjadi magnet penarik wisatawan.
Sebut saja misalnya beberapa tempat-tempat pemandian air panas di beberapa kabupaten. Salah satunya adalah tempat wisata pemandian air panas Pemali di Sungai Liat, Kabupaten Bangka.
Sama seperti beberapa pemandian ari panas lain di Bangka, sumber mata air panas di Pemali juga berasal dari dalam perut bumi. Air panas yang konon bisa menyembuhkan aneka macam penyakit kulit itu keluar memancar dari perut bumi.
Namun, sayang, saat ini Pemali ditutup sementara karena di lokasi itu tengah dibangun rumah makan dan gedung lainnya. Hanya warga sekitar lokasi pemandian itu yang masih bisa mandi-mandi atau sekadar merendam kakinya di kolam air panas. Satu lokasi pemandian air panas lainnya ada di Dendang, Kecamatan Kelapa. Namun, lokasi ini belum dikelola secara baik.
Selain Pantai Pasir Padi, masih banyak pantai lain yang seharusnya bisa mengundang wisatawan. Sebut saja misalnya Pantai Matras, Pantai Parai/Tenggiri, Pantai Batu Bedaun, Pantai Tanjung Pesona, Pantai Teluk Uber, Pantai Rebo, Pantai Air Anyer, Pantai Remodong, Pantai Tanjung Kelian, Pantai Tanjung Ular, Pantai Pasir Kuning, dan Pantai Penyak.
Bagi penggemar lokasi wisata bukan pantai, Bangka juga memiliki tak sedikit tempat wisata. Bagi mereka yang suka wisata alam, di Sungailiat, Kabupaten Bangka, terdapat hutan wisata. Hutan ini terletak di jantung Sungailiat. Lokasinya di depan Masjid Agung. Tempat ini sering dipakai berkemah oleh anak-anak muda atau pelajar dan Pramuka.
Pulau Bangka yang sekitar 40 persen penduduknya warga keturunan Cina juga banyak memiliki gedung-gedung tua yang indah. Bahkan, kampung Cina dengan ciri khasnya bisa ditemui di sejumlah lokasi. Di beberapa kampung Cina, keanekaragaman adat, seni, dan budayanya bisa menjadi pemandangan tersendiri.
Beberapa kampung Cina yang terdapat di Pulau Bangka antara lain di Pari Tiga Jebus, Kuto Panji Belinyu, Kampung Bintang, Pangkal Pinang, dan Desa Mengkuban Manggar.
Desa wisata, tetapi dalam nuansa lain bisa pula ditemukan di Bangka, yakni Desa Wisata Bali. Desa ini adalah Trans VI Batu Betumpang yang merupakan desa percontohan, dengan penduduk berasal dari Bali. Bersihnya perkampungan, sifat gotong royong, balai banjar, dan pura tempat sembahyang umat Hindu Bali menjadi ciri khasnya.
Bangka seolah-olah diciptakan Tuhan menjadi tempat tujuan wisata. Lokasi wisata lain yang dapat dinikmati pengunjung antara lain air terjun Sadap di Kecamatan Koba, Kabupaten Bangka Tengah. Bahkan, tersedia wisata agro di pulau ini. Kebun lada putih yang banyak tersebar di pulau itu, ditambah perkebunan karet dan kelapa sawit, bisa menjadi pemandangan yang mengasyikkan bagi pengunjung.
Bagi penggemar buah nanas, hamparan perkebunan nanas yang luas bisa disaksikan di Toboali, di bagian selatan Pulau Bangka. Di perkebunan nanas ini pengunjung bisa langsung menikmati nanas segar dan manis langsung dari kebun.
Membicarakan potensi wisata Pulau Bangka memang seakan tiada habisnya. Selain di Mentok, tempat wisata sejarah terdapat pula di Kota Pangkal Pinang. Salah satu bangunan tua adalah Museum Timah yang terletak di jantung kota. Gedung ini menyimpan sejarah penambangan timah di Bangka.
Bangka masih pula menyimpan potensi wisata lain, misalnya kolam ikan Pha Kak Liang dengan bangunan khas Cina di Belinyu, klenteng di daerah Jebus juga menyimpan keindahan arsitektur khas Cina.
Begitu banyak dan beragamnya potensi wisata Bangka, membuat pulau ini pantas disebut tidak kalah dengan Pulau Dewata. Namun, pengelolaan yang tidak maksimal menyebabkan potensi ini seperti terabaikan. Jangankan orang Jakarta dan kota besar lainnya, warga Palembang dan Sumatera Selatan yang bertetangga pun seperti enggan berkunjung ke Bangka.

1 komentar: